Minggu, 04 Oktober 2009

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Sejarah Perkembangan Jamur Tiram
Pelopor pembudidayaan jamur sudah dimulai sejak 200-300 tahun lalu oleh Cina daratan, yang digunakan sebagai bahan konsumsi dan bahan obat berkhasiat, yang kemudian menyebar keberbagai negara yaitu Kore, Myanmar, Jepang, Taiwan, vietnam, Indonesia, Malaysia, dan negara tetangga yang lain (Suriawiria, 2000).
Di Indonesia, budidaya jamur mulai dikenal pada tahun 1950 untuk jenis jamur merang, jenis jamur tiram yang tergolong jamur kayu baru dikenal pada awal tahun 1970. Perkembangan jamur di Indonesia berkembang seiring dengan terbuktinya jamur yang mengandung senyawa bermanfaat sejak awal tahun 1970. Perkembangan budidaya jamur tiram berkembang seiring dengan jenis jamur-jamur yang lain, seperti jmur kancing (champignon), jamur merang (supa pare), dan segolongan jamur kayu yaitu kuping, shiitake, maitake, dan ling-zhi.
Menurut Suriawiria (2000), Prospek pengusahaan jamur kayu yang didalamnya termasuk jamur tiram di Indonesia cukup cerah, karena kondisi ikilim dan lingkungan Indonesia sangat cocok untuk budidayanya, bahan baku substrat/ log tanam jamur cukup melimpah, yaitu semisal bubuk kayu, bibit jamur unggul sudah tersedia, yaitu semisal Agaricus Sido Makmur Sentosa Lawang dan Laboratorium Mikrobiologi Universitas Muhammadiyah Malang, sehingga untuk memulai usaha dalam skala terbatas tidak perlu membeli bibit dari luar apalagi mengimpor.
Perkembangan agrobisnis jamur di Indonesia menurut Suriawiria (2000) cukup pesat didukung oleh beberapa alasan yaitu sebagai berikut:
a. Penggunaan lahan tidak perlu luas.
b. Bahan baku penanaman jamur umumnya dalam bentuk limbah atau buangan, seperti serbuk kayu, bekatul, serpihan kayu, atau limbah kayu gelondongan, maka dari itu biaya produksi dapat ditekan.
c. Waktu tanam hingga panen yang singkat, misalnya untuk jamur tiram 1-2 bulan dan shiithake 2-3 bulan.
d. Harga jual yang tinggi, yaitu untuk jamur tiram segar 4.000-5.000 Rp/Kg, 4.500-6000 Rp/Kg untuk jamur kuping segar, dan 10.000-14.000 Rp/Kg untuk jamur shiitake segar.
e. Jamur memiliki nilai gizi yang tinggi untuk kesehatan dan kebugaran. Seperti yang diuraikan dalam pendahuluan diatas.




Tabel 1. Urutan Negara Penghasil Beberapa Jenis Jamur Berdasarkan Tingkat Produksinya

Nama Umum Negara Penghasil
Champion/ jamur kancing Amerika Serikat, Perancis, Nederland,Inggris, RRC, Taiwan, Australia, Skandinavia
Shiitake/ hioko/ donko/ chinese black mushroom Cina, Jepang, Taiwan, Korea, Indonesia (baru mulai), Amerika Serikat, Beberapa negara Eropa
Jamur merang, hed-bua, paddy straw mushroom Cina, Taiwan, Korea, Filipina, Thailand, Indonesia, Malaysia
Jamur winter Jepang, Cina, Taiwan, Korea
Jamur kuping/ mouleh/ hiratake Cina, Taiwan, Filipina
Jamur tiram/ shimeji Cina, Taiwan, Jepang, Thailand, Pakistan, Indonesia, Singapura, Jerman, Nederland
Nameko Jepang
Jamur lendir putih Cina. Taiwan
Tuber Jepang
Sumber: Suriawiria, 2000
Urutan negara penghasil beberapa jenis jamur berdasarkan tingkat produksinya, yang pertama jamur kancing/ champion dengan negara penghasil antara lain: Amerika Serikat, Perancis, Nederland, Inggris, RRC, Taiwan, Australia, Skandinavia. Jamur Shiitake/ hioko/ donko/ chinese black mushroom dengan negara penghasil antara lain: Cina, Jepang, Taiwan, Korea, Indonesia (baru mulai), Amerika Serikat, Beberapa negara Eropa. Jamur merang, hed-bua, paddy straw mushroom negara penghasilnya antara lain: Cina, Taiwan, Korea, Filipina, Thailand, Indonesia, Malaysia. Jamur winter negara penghasilnya antara lain: Jepang, Cina, Taiwan, Korea. Jamur kuping/ mouleh/ hiratake negara penghasilnya antara lain: Cina, Taiwan, Filipina. Jamur tiram/ shimeji negara penghasilnya antara lain: Cina, Taiwan, Jepang, Thailand, Pakistan, Indonesia, Singapura, Jerman, Nederland. Jamur Nameko negara penghasilnya, yaitu Jepang.
Jamur lendir putih negara penghasilnya, yaitu Cina. Taiwan dan jamur tuber negara penghasilnya, yaitu Jepang.
Berdasarkan urutan produksi jenis jamur dan negara penghasilnya, Indonesia berada pada tingakat ke-enam penghasil jamur tiram/ shimeji setelah negara Cina, Taiwan, Jepang, Thailand, Pakistan. Indonesia masih unggul dalam mengahasilkan jamur tiram diatas negara Singapura, Jerman, Nederland.

2.2 Pemasaran
Pengertian Pemasaran menurut Sumarni dan Soeprihanto (1998) adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
Sumarni juga mengemukakan, konsep pemasaran (The Marketing Concept) merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan perusahaan yang terdiri dari penentuan kebutuhan, keinginan pasar sasaran dan pemberian kepuasan yang diinginkan secara lebih baik daripada yang dilakukan oleh pesaingnya. Dasar pemikiran yang terkandung dalam konsep ini antara lain:
1) Pemuasan keinginan kelompok pembeli tertentu adalah tugas perusahaan.


2) Diperlukan program riset pemasaran untuk mengetahui pola keinginan pembeli.
3) Semua kegiatan untuk mempengaruhi konsumen harus ditempatkan di bawah kontrol pemasaran yang terintegrasi.
4) Kepuasan konsumen akan dapat menimbulkan loyalitas dan kesan baik dari pembeli.
Menegaskan bahwa, apabila perusahaan menganut konsep pemasaran, maka semua kegiatan diarahkan kepada keinginan konsumen (consumer oriented). Menerangkan juga, apabila perusahaan melaksanakan consumer oriented maka harus dapat:
1) Menentukan kebutuhan pokok dari pembeli yang akan dilayani.
2) Memilih kelompok pembeli tertentu sebagai sasaran penjualan.
3) Menentukan produk dan program pemasarannya.
4) Mengadakan penelitian terhadap konsumen untuk mengukur, menilai dan menafsirkan keinginan, sikap serta tingkah laku konsumen.
5) Menentukan dan melaksanakan strategi yang paling baik, apakah ingin menitikberatkan pada kualitas yang tinggi, atau pada harga yang murah atau pada desain yang mutakhir (modern).
Dalam bukunya Sumarni dan Soeprihanto, menjelaskan dalam tabel beberapa perbedaan yang jelas antara Konsep Penjualan, Konsep Pemasaran dan Konsep Pemasaran Baru.
Tabel 2: Perbedaan Konsep Penjualan, Konsep Pemasaran dan Konsep Pemasaran Baru.

Konsep Penjualan Konsep Pemasaran Konsep Pemasaran Baru

1) Menitik beratkan pada produk serta keinginan penjual/ produsen.
2) Produsen membuat produk dan mencari keuntungan dari penjualan produk tersebut melalui upaya-upaya promosi yang sangat intensif.
3) Intern, orientasinya ke dalam perusahaan.
1) Menitik beratkan pada kebutuhan dan keinginan pembeli/ pasar.
2) Produsen menentukan apa kebutuhan/ keinginan pembeli dan mencari keuntungan serta menyalurkan produk untuk memuaskan kebutuhan tersebur melalui pemasaran yang terpadu.
3) Ekstern, orientasinya ke pasar.
1) Lebih menitik beratkan pada kepentingan lingkungan bisnis perusahaan
2) Produsen menentukan kebutuhan pembeli dan berupaya memuaskan kebutuhan tersebut dengan manajemen strategik.
3) Di samping berorientasi ke pasar juga memperhatikan “stake holder benefits”

Perbedaan konsep penjualan, konsep pemasaran dan konsep pemasaran baru. konsep penjualan menitik beratkan pada produk serta keinginan penjual/ produsen, produsen membuat produk dan mencari keuntungan dari penjualan produk tersebut melalui upaya-upaya promosi yang sangat intensif dan orientasinya ke dalam perusahaan atau bersifat intern. Konsep pemasaran, menitik beratkan pada kebutuhan dan keinginan pembeli/ pasar, produsen menentukan apa kebutuhan/ keinginan pembeli dan mencari keuntungan serta menyalurkan produk untuk memuaskan kebutuhan tersebur melalui pemasaran yang terpadu dan orientasinya ke pasar atau bersifat ekstern. Konsep pemasaran baru, lebih menitik beratkan pada kepentingan lingkungan bisnis perusahaan, produsen menentukan kebutuhan pembeli dan berupaya memuaskan kebutuhan tersebut dengan manajemen strategik dan memperhatikan “stake holder benefits” juga berorientasi ke pasar.
2.3 Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini (Engel, 1994).
Lamb, Hair dan Mcdaniel (2001), mengemukakan dalam bukunya akan pentingnya memahami perilaku konsumen dan mengapa manajer pemasaran harus memahami perilaku konsumennya. Semua dikarenakan sesuai penjelasannya, perilaku konsumen menggambarkan bagaimana konsumen membuat keputusan-keputusan untuk melakukan pembelian. Dalam hal ini analisis komponen dari proses pengambilan keputusan konsumen adalah penting. Proses pengambilan keputusan konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Lamb, Hair dan Mcdaniel (2001: 201-231) faktor pengaruh keputusan konsumen dalam melakukan pembelian diantaranya adalah pengaruh budaya, pengaruh kelas sosial, pengaruh sosial, pengaruh individu dan pengaruh psikologis, dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengaruh Budaya pada Keputusan Pembelian
Faktor budaya sangat berpengaruh paling luas dan paling dalam bahkan melebihi perilaku konsumen secara pribadi dalam pengambilan keputusan. Budaya merupakan karakter penting dari suatu sosial yang membedakannya dari kelompok kultur yang lain. Kultur adalah sesuatu yang diresapi, meliputi semua hal yang konsumen lakukan tanpa sadar memilih karena nilai kultur mereka, adat istiadat dan ritual mereka yang telah menyatu dengan kebiasaan sehari-hari.
2. Pengaruh Kelas Sosial pada Keputusan Pembelian
Kelas sosial adalah sekelompok orang yang sama-sama mempertimbangkan secara dekat persamaan di dalam status atau penghargaan komunitas yang secara terus-menerus bersosialisasi di antara mereka sendiri baik secara formal dan informal, dan yang membagikan norma-norma perilakunya.
3. Pengaruh Sosial pada Keputusan Pembelian
a Kelompok acuan (Refrence Groups)
Kelompok acuan (Refrence Groups) adalah kelompok dalam masyarakat yang mempengaruhi perilaku pembelian seseorang. Terdapat empat kelompok acauan, yaitu:
1) Kelompok keanggotaan utama (primary membership groups) merupakan semua kelompok yang melakukan interaksi secara teratur, informal, perilaku saling bertatap muka, seperti keluarga, teman-teman, dan teman kantor.
2) Kelompok keanggotaan kedua merupakan kelompok acuan di mana orang-orang yang berkaitan kurang konsisten dan lebih formal, seperti klub, kelompok profesianal dan kelompok keagamaan.
3) Kelompok acuan aspirasional (aspirational reference groups) merupakan kelompok di mana beberapa orang berkenginan untuk bergabung dengan kesepakatan norma dalam kelompok tersebut.
4) Kelompok acuan nonaspirasional (nonaspirational reference groups) merupakan kelompok di mana seorang individu tidak berkeinginan untuk bergabung. Misalnya seseorang konsumen tidak atau menolak suatu produk dengan alasan menghindari bergabung dengan kelompok yang tidak disenangi tersebut.

b Pemimpin Opini (Opinion Leaders)
Pemimpin Opini (Opinion Leaders) adalah orang-orang yang mempengaruhi orang lain, misalnya suatu produk yang diperkenalkan oleh pemimpin dihadapan masyarakat umum dan pemimpin tersebut menjadi trend di pasar bagi konsumen sehingga mempengaruhi konsumen untuk membeli.
c Keluarga (Family)
Keluarga adalah institusi sosial yang paling penting bagi beberapa konsumen, karena secara kuat mempengaruhi nilai, sikap, konsep pribadi dalam perilaku pembelian. Misalnya, suatu keluarga yang memiliki nilai yang kuat tentang produk kesehatan akan memiliki daftar grosir yang beragam dan berbeda sehingga dalam setiap jamuan makan malam mereka selalu dianggap sebagai suatu peristiwa yang harus dihadiri oleh ahli masak. Di dalam keluarga terdapat Initiator adalah orang yang mengambil inisiatif atau yang mengusulkan, Influencers adalah angota keluarga yang memberi pengaruh dan padangan yang sekaligus menilainya, Decision maker adalah anggota keluarga yang seseungguhnya membuat keputusan untuk membeli atau tidak.
4. Pengaruh Individu pada Keputusan Pembelian
Didalamnya terdapat:
a. Gender
Gender dalam hal ini merupakan perbedaan psikologis antara pria dan wanita yang menghasilkan perbedaan kebutuhan, seperti produk kesehatan dan kecantikan.
b. Usia
Perbedaan usia memberikan pengaruh terhadap perilaku konsumen, diantaranya kesesuaian selera dengan usia mereka.
c. Kepribadian, Konsep Diri dan Gaya hidup
1) Kepribadian (personality) merupakan suatu cara mengumpulkan dan mengelompokkan keskonsistenan reaksi seseorang individu terhadap situasi yang sedang terjadi.
2) Konsep Diri (persepsi diri) merupakan bagaimana konsumen mempersepsikan diri mereka sendiri yang meliputi sikap, persepsi, keyakinan dan evaluasi diri. Di dalamnya menggabungkan gambaran diri ideal (ideal self-image), yaitu suatu jalan bagi individu untuk menjadi apa yang diinginkannya dan gambaran diri nyata (real self-image), yaitu bagaimana individu dapat menerima dirinya seperti apa adanya.
3) Gaya Hidup (lifestyle) merupakan cara hidup, yang diidentifikasi melalui aktivitas seseorang, minat dan pendapat seseorang.
5. Pengaruh Psikologis pada Keputusan Pembelian
Didalamnya terdapat:
a. Persepsi
Persepsi adalah proses dimana kita memilih, mengatur dan menginterprestasikan rangsangan tersebut ke dalam gambaran yang memberi makna dan melekat atau cara konsumen memandang dunia sekitarnya sehingga mengetahui bahwa mereka membutuhkan bantuan dalam membuat suatu keputusan untuk membeli.
b. Motivasi
Motivasi adalah kekuatan pendorong yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhannya. Konsumen melakukan pembelian suatu produk atas dasar untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut menjadi motif dorongan yang kuat ketika konsumen membutuhkan sesuatu.
c. Pembelajaran (Learning)
Pembelajaran adalah proses penciptaan perubahan perilaku melalui pengalaman dan latihan baik secara langsung (eksperiential) atau tidak langsung (conseptual). Contoh pembelajaran langsung, yaitu konsumen mencoba membeli langsung suatu produk dan pembuktian produk tersebut sesudahnya apakah sesuai dengan yang diharapkan. Contoh pembelajaran tidak langsung pembelian konsumen setelah mendapat informasi dari orang lain akan suatu produk yang telah dirasakan orang lain tersebut.
Di dalam bukunya, Engel (1994: 4) mengemukakan terdapat beberapa perspektif dalam perilaku konsumen, yaitu: (1) Perspektif Pengaruh Konsumen (consumer influence), (2) Perspektif Menyeluruh (wholistic), (3) Perspektif Antarbudaya (intercultural). Diterangkan sebagai berikut:
1. Perspektif Pengaruh Konsumen
Pengaruh konsumen disini antara lain adalah pemasaran, pendidikan dan perlindungan konsumen, serta kebijakan umum. Pemasaran dalam definisi ini adalah perkuranan antara pelanggan dan penyuplai. Masing-masing pihak memberikan sesuatu yang bernilai kepada pihak lain dengan tujuan memenuhi kebutuhan mereka masing-masing. Dalam konteks pembelian yang normal, uang ditukar dengan barang atau jasa yang diinginkan. Semua yang dilakukan penyuplai dalam hal produk, harga, promosi, dan distribusi (bauran pemasaran atau marketing mix) diadaptasikan dengan permintaan pasar.
Pendidikan dan perlindungan konsumen disini mendefinisikan melalui pendidikan, konsumen diajarkan mendeteksi adanya penipuan dan penyalahgunaan lain serta dibuat sadar akan obat yang ada dan peluang untuk mmperbaiki. Program pendidikan didasarkan pada penelitian terhadap motivasi dan perilaku bila program tersebut diharapkan relevan dengan dunia riil kehidupan konsumen.
Kebijakan umum/ publik disini adalah kebijakan pemerintah dalam memberikan pilihan dan mempegaruhi konsumen melalui pembatasan dalam kekuatan monopoli dan melalui pengekangan kecurangan praktek dagang lain yang tidak jujur, karena pendidikan saja tidak menjamin kesejahteraan konsumen dan merupakan hak konsumen untuk membuat pilihan yang terinformasi dari susunan alternatif.
2. Perspektif Menyeluruh
Perspektif menyeluruh ini adalah perkembangan terbaru, dan baik jumlah yang menganut sudut pandang ini maupun jumlah yang dihasilkan dari publikasinya masih relatif kecil. Ada sedikit keraguan bahwa jumlahnya akan berkembang karena pentingnya pengertian akan sifat perilaku manusia dan nilai-nilai di dalam arena kegiatan hidup yang berarti ini, di samping perhatian pragmatis para pemasar.
3. Perspektif Antarbudaya
Di dalamnya dijelaskan, terdapat di semua benua, perjuangan menuju perkembangan ekonomi dan kemandirian yang lebih besar. Barang konsumen menjadi semakin penting, sementara muncul masyarakat yang berorientasi konsumen merupakan suatu manifestasi dini adalah kelas menengah dengan pendapatan sesudah pajak. Dan dijelaskan, melalui iklan televisi, radio, dan surat kabar, penjualan meningkat sepuluh kali lipat. Dari hal ini meluaskan bahwa penelitian konsumen sebagai kebutuhan universal, ini adalah karena kebutuhan
dasar manusia bersifat universal, walaupun ada perbedaan budaya yang dalam dan tidak dapat disangkal.
Menurut Engel, secara sistematik model perilaku pengambilan keputusan konsumen dan pengaruh-pengaruh terhadapnya di gambarkan seperti bagan berikut:
















Dijelaskan bahwa proses keputusan konsumen dipengaruhi oleh pengaruh lingkungan, perbedaan individu dan proses psikologis. Didalamnya pengaruh
lingkungan terdapat budaya, kelas sosial, pengaruh pribadi dan pengaruh keluarga. Perbedaan individu dibentuk oleh sumber daya konsumen, motivasi dan keterlibatan individu, pengetahuan individu, sikap dan kepribadian yang diikuti gaya hidup,dan demografi. Proses psikologis yang didalamnya dibentuk oleh pengolahan, informasi, pembelajaran, perubahan dan sikap/ perilaku.

2.4 Marketing Mix
Makerting mix atau juga dikenal bauran pemasaran adalah kombinasi dari variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran yaitu produk, harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi (Sumarni, 1998).
Marketing mix merupakan kumpulan variabel-variabel yang dapat digunakan perusahaan untuk mempengaruhi tanggapan konsumen, sehingga dapat ditentukan tingkat keberhasilan pemasaran yang diikuti oleh kepuasan konsumen.
Variabel-variabel Marketing Mix menurut Sumarni dijelaskan seperti dibawah ini:
1) Produk
Produk yaitu setiap apa saja yang bisa ditawarkan di pasar untuk mendapatkan perhatian, permintaan, pemakaian atau konsumsi yang dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan.
Kotler (2001: 414) mengartikan produk adalah segala sesuatu, baik menguntungkan maupun tidak, yang diperoleh seseorang melalui pertukaran. Menurut Kotler, kebanyakan orang menganggap istilah “produk” adalah barang nyata, akan tetapi menurutnya jasa dan ide juga merupakan produk, dalam hal ini citra dari penjual dan reputasi pabrik merupakan hal yang sangat penting.




Produk berkaitan erat dengan mutu dan kualitas, seperti misalnya yang sesuai dengan pendapat Hastari. Menurut Hastari (2004: 52), mengatakan bahwa mutu dan kualitas produk mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam mempengaruhi konsumen untuk membeli. Pada hasil penelitiannya terhadap perilaku konsumen buah naga (Dragon fruit) menyatakan kondisi buah naga yang banyak diminati oleh para konsumen, yaitu kondisi buah dengan kenampakan luar berwarna merah segar dan tidak terdapat noda/ bintik pada buah atau indikasi pada buah busuk.
Merek (branding) adalah suatu nama, istilah, simbol, desain, atau gabungan keempatnya, yang mengidentifikasikan produk para penjual dan membedakannya dari produk pesaing. Manfaat merek yaitu sebagai identifikasi produk, untuk keperluan penjualan berulang dan sebagai penjualan produk baru suatu perusahaan. Merek mempunyai kesadaran yang tinggi, kualitas yang dirasakan dan kesetiaan merek diantara konsumen mempunyai nilai yang tinggi. Nilai suatu perusahaan terhadap nama merek disebut ekuitas merek (brand equity) (Lamb, 2001: 421-422).
Kemasan yaitu pemegang isi bersama dan melindungi barang sewaktu dipidah-pindahkan melalui saluran distribusi atau wadah untuk mempromosikan suatu produk dan menjadikannya lebih mudah dan aman untuk digunakan. Fungsi kemasan pada saat ini sangat diperhatikan dan diperhitungkan dengan maksud untuk memudahkan pendaurulangan dan mencegah kerusakan lingkungan (Lamb, 2001: 432).
Pelayanan terhadap konsumen sangat mempengaruhi nilai suatu produk. pelayanan yang memuaskan merupakan hal yang paling diharapkan bagi para konsumen, yang menjadikan suatu kenyamanan konsumen dalam mendapatkan produk yang diinginkan. Bersamaan dengan hal tersebut, kenyamanan juga merupakan hal penting dan harus diperhatikan, dimana kenyamanan suatu tempat memberikan dorongan tersendiri bagi konsumen untuk melakukan pembelian ditempat tersebut (Hastari, 2004: 50-51)
2) Harga
Harga yaitu jumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya.
Menurut Sumarni Perusahaan juga seringkali melakukan modifikasi harga dasar atau price (P) untuk menyesuaikan perbedaan dalam pelanggan, produk, lokasi maupun waktu transaksi. Oleh karena dibutuhkan metode penetapan harga dalam membantu perusahaan untuk menentukan titik pulang pokok atau yang sering disebut Break Event Point atau yang disingkat BEP.
Seperti yang kita ketahui bahwa biaya total atau Total Cost (TC) atau merupakan jumlah dari biaya tetap atau Fixed Cost (FC) dan biaya variabel atau Variable Cost (VC). Dirumuskan sebagai berikut:
TC = FC + VC
BEP (unit) = BEP (rupiah) =
3) Promosi
Promosi yaitu mencakup semua kegiatan perusahaan untuk memeprkenalkan produk dan bertujuan agar konsumen tertarik untuk membelinya.

Barang Konsumsi



Barang
Industri



Dari ganbar 3 diatas menjelaskan bahwa perusahaan barang konsumsi biasanya akan menggunakan sebagian dananya untuk periklanan, dibawahnya ialah promosi penjualan dan penjualan pribadi yang terakhir publisitas. Sedangkan untuk perusahaan industrial sebagian besar dananya digunakan untuk penjualan pribadi, kemudian untuk promosi penjualan, periklanan dan terakhir publisitas. Promosi dapat melalui media elektronik (Televisi, Radio, Internet, dll), media masa (Koran, Majalah, Pamflet, dll).

4) Saluran Distribusi
Saluran distribusi yaitu struktur unit organisasi dalam perusahaan dan luar perusahaan yang terdiri dari agen, pedagang besar dan pengecer melalui mana suatu produk atau jasa dipasarkan.
Perusahaan-perusahaan saat ini memberikan tekanan yang besar pada logistik untuk beberapa alasan. Pertama, layanan dan kepuasan pelanggan telah menjadi batu penjuru strategi pemasaran dalam sebagian bidang bisnis dan distribusi merupakan elemen layanan pelanggan yang penting. Perusahaan saat ini menyadari bahwa mereka dapat menarik pelanggan baru dengan memberikan layanan yang lebih baik. Beberapa perusahaan dapat kehilangan pelanggan pada saat mereka gagal memasok produk yang tepat pada saat yang tepat. Layanan pelanggan yang maksimum menyiratkan pengiriman yang cepat, persediaan dalam jumlah besar, bauran barang yang fleksibel dan kebijakan pengembalian yang liberal. Dalam hal ini perusahaan harus meneliti pentingnya berbagai layanan distribusi bagi pelanggannya dan selanjutnya menetapkan tingkat layanan yang diharapkan yntuk masing-masing segmen (Kotler, 2001: 34-36)
Dibawah ini terdapat contoh tingkat saluran distribusi pada pasar konsumsi dan pasar industri:

















2.5 Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah tindakan membagi suatu pasar yang bersifat heterogen ke dalam satuan-satuan pasar (segmen pasar) yang bersifat homogen (Sumarni, 1998).
Sumarni menjelaskan terdapat syarat-syarat dalam mengadakan segmentasi pasar:
1) Dapat diukur (Measurability)
Artinya, sejauh mana besarnya pasar dan daya beli segmen ini dapat diukur.
2) Dapat terjangkau (Accessibilityi)
Artinya, sampai sejauh mana segmen ini dapat secara efektif dicapai atau dilayani.
3) Besarnya (Substatialityi)
Artinya, sejauh mana segmen ini cukup menguntungkan. Sebuah segmen haruslah kelompok homogen sebesar mungkin yang sejalan dengan program pemasaran.
4) Dapat dilaksanakan (Actionability)
Hal ini merupakan ukuran sejauh program-program yang efektif dapat dirancang untuk menarik segmen pasar.

2.6 Trend Pemasaran
2.6.1 Pengertian Trend Pemasaran
Ramalan (prediction, forecasting), yaitu perkiraan sesuatu pada waktu yang akan datang berdasarkan data waktu lampau yang telah disusun dalam laporan statistik Ramalan dalam suatu perusahaan dapat berupa: (1) bagaimana volume penjualan tahun mendatang, (2) bagaimana pergerakan perdagangan antar bulan atau antar tahun, (3) berapa jumlah yang harus diproduksi untuk periode yang akan datang. Merupakan tugas pokok bagi pimpinan perusahaan yang kesemuanya mengacu pada planning (Djarwanto, 2001).
Menurut Djarwanto, ketelitian ramalan akan berbeda pada tiap persoalan, tergantung pada data, cara analisis data, penentuan kesimpulan data dan tingkat kepuasan pimpinan.
Data trend pemasaran merupakan data statistik deret waktu (time series) yang dikumpulkan dan dicatat dalam batas (interval) waktu tertentu, seperti tahunan, triwulanan, bulanan, mingguan atau harian. Data tersebut misalnya data penjualan, produksi, harga, tenaga kerja, persediaan, ekspor, impor dan lain-lain.
Analisa trend adalah suatu metode untuk meramalkan dan untuk merencanakan masa depan, menggunakan ukuran-ukuran yang dapat digunakan untuk membuat keputusan pada saat ini (Djarwanto, 2001).

2.6.2 Tipe Fluktuasi Trend Pemasaran
Data deret waktu timbul karena pengaruh, misalnya tingkat penghasilan, selera konsumen, keadaan musim, adat istiadat, alam lingkungan, dan sebagainya. Terdapat 4 pola atau komponen yang umum dalam deret waktu:
1. Trend Sekuler (Secular trend)
Menurut Djarwanto, trend sekuler atau trend jangka panjang adalah gerakan yang teratur, regular atau gerakan rata-rata dari data statistik dalam jangka waktu yang panjang. Trend tersebut dilukiskan dengan suatu garis yang meningkat, menurun, horizontal, atau naik-turun.
Menurut Kustituanto, trend sekuler merupakan titik petunjuk dari gerak runtut waktu untuk jangka panjang. Ditunjukkan dengan garis lurus atau suatu kurva naik dan turun.
2. Variasi Musim (Seasonal variation)
Menurut Djarwanto, variasi musim adalah variasi yang periodik, berulang-ulang dan regular.
Menurut Kustituanto variasi musim adalah perubahan yang berulang-ulang secara periodik dalam runtut waktu.
Keduanya berpendapat variasi musim terjadi dalam 1 tahun, 1 bulan, 1 minggu dan bahkan 1 hari. Disebabkan oleh pengaruh musim/ iklim, adat-istiadat dan kebiasaan.
3. Variasi Konjungtur (Cyclical variation)
Menurut Kustituanto, variasi konjungtur juga disebut siklis bisnis (businesscycles). Gerak siklis menunjukkan ekspansi dan penurunan aktivitas bisnis di sekitar nilai normal. Panjang dari siklis tidak tetap dan relatif pendek terjadinya gerak siklis adalah faktor ekonomi.
Menurut Djarwanto, variasi konjungtur dibedakan dari variasi musim dalam hal periode untuk setiap siklus mengambil periode waktu yang lebih panjang.
4. Variasi Residu (Irregular/ Random/ Erratic variation)
Menurut Djarwanto, variasi residu adalah variasi yang timbulnya tidak teratur, tidak dapat diduga. Misalnya peperangan, perubahan politik, pemogokan, bencana alam dan lain-lain.
Menurut Kustituanto, variasi residu merupakan gerak tidak beraturan (irregular movements). Faktor penyebab gerak ini semuanya random. Gerak ketidakberaturan ini dapat diabaikan jika satuan waktu yang digunakan dalam klasifikasi data sangat panjang. Misalnya, suatu grup hiburan datang ke kota kecil satu kali tiap tahun, tetapi pada bulan yang berbeda selama beberapa tahun yang lalu.

2.6.3 Trend Garis Lurus (Straight Line Trends)
Persamaan trend garis lurus adalah: Y = a + bX
Yang menunjukkan bahwa:
Y = nilai pada garis lurus berdasarkan skala vertikal atau Y aksis (disebut variabel dependen jika Y tergantung pada nilai X)
X = nilai pada garis lurus berdasarkan skala horisontal atau X aksis (disebut variabel independen dengan variabel dependen Y)
a = intersep Y (tingginya ordinat dari titik 0 sampai perpotongan antara garis lurus dan Y aksis), yang sama dengan nilai Y jika X = 0
b = slope garis lurus, menunjukkan rata-rata perubahan variabel Y per unit (Kustianto, 1995).
Dalam bukunya Djarwanto dan Kustianto, terdapat berbagai metode dalam menghitung trend linier, yaitu:
1. Metode bebas (Freehand method)
Metode bebas adalah metode sederhana yang tidak memerlukan perhitungan-perhitungan dimana data pengamatan digambarkan dalam bentuk diagram pencar, kemudian ditarik garis lurus secara bebas denganarah yang sesuai denganletak titik-titiknya (Djarwanto, 2001).
Menurut Kustianto (1995: 157) terdapat prosedur dalam memperoleh garis lurus untuk mengukur trend sekuler yaitu sebagai berikut:
1) Gambarkan runtut waktu pada grafik.
2) Periksa dengan seksama arah dari trend berdasarkan titik-titik dalm grafik.
3) Tarik garis lurus setepat mungkin berdasarkan penyebaran data yang ada. Garis tersebut menunjukkan arah trend.
2. Metode setengah rata-rata (Semi average method)
Metode setengah rata-rata adalah metode yang paling sederhana untuk mencari garis lurus dengan meninggalkan faktor subyektif dalam penggambarannya.
Prosedur dalam memperoleh garis lurus metode ini adalah sebagai berikut:
1) Membagi data asli ke dalam 2 group yang sama dan menghitung rata-rata dari setiap group. Jika banyaknya tahun dari setiap data asli ganjil, ada dua metode dalam penyelesaiannya, yaitu:
a. Nilai pertengahan tahun dihitung dua kali dan dimasukkan baik dalam group I maupun group II.
b. Nilai tahun pertengahan tidak dicantumkan.
2) Gambarkan dua rata-rata pada grafik dan tarik garis lurus melalui 2 rata-rata tersebut.
3) Mencari persamaan trend yang didasarkan dua titik pada garis.

3. Metode rata-rata bergerak (Moving average method)
Dalam metode ini, nilai data suatu tahun diganti dengan nilai rata-ratanya, dihitung dengan nilai data tahun yang mendahului dan nilai data tahun berikutnya.
4. Metode kuadrat terkecil (Least square method)
Pada metode ini, trend dihitung dengan ketentuan jumlah deviasi kuadrat antara tiap nilai deret waktu dengan nilai trend adalah minimum. Metode ini menggunakan persamaan garis lurus, yaitu:
Y = a + bX
Dimana untuk mendapatkan nilai a dan b adalah:

Rumus diatas disebut short method.

2.7 Analisa Faktor (Faktor Analysis)
Menurut Santoso dalam Wahyuana (2004: 41) analisa faktor merupakan suatu cara untuk mereduksi data melalui proses meringkas sejumlah variabel menjadi lebih sedikit dan menamakannya sebagai faktor.
Menurut keterangan Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (2006) analisis faktor adalah salah satu metode statistik multivariat yang mencoba menerangkan hubungan antar sejumlah peubah-peubah yang saling independen antara satu dengan yang lain sehingga bisa dibuat satu atau lebih kumpulan peubah yang lebih sedikit dari jumlah peubah awal. Analisis faktor juga digunakan untuk mengetahui faktor-faktor dominan dalam menjelaskan suatu masalah.
Pada prinsipnya analisis faktor menyederhanakan hubungan yang beragam dan komplek pada variabel yang diamati dengan menyatukan faktor atau dimensi yang saling berhubungan atau mempunyai korelasi pada suatu struktur data yang baru yang mempunyai faktor lebih kecil.
Agam (2006) berpendapat, dalam analisis faktor ini seluruh variabel akan dilihat hubungannya (interdependent antar variabel), sehingga akan menghasilkan pengelompokan atau tepatnya abstraction dari banyak variabel menjadi hanya beberapa variabel baru atau faktor. Dengan sedikit faktor ini akan menjadi lebih mudah untuk dikelola. Agam juga mengemukakan analisis faktor ini sebenarnya merupakan Exploratory Research atau penelitian eksplorasi. Seperti yang di gambar dibawah ini:








Menurut Santoso dalam Wahyuana formulasi analisis faktor sebagai berikut:



Keterangan:
Xi = Variabel terstandar ke-i
Aim = Koefisien regresi dari variable ke-I pada comman factor ke-m
Fm = common faktor ke-m
Vi = Koefisien regresi terstandar dari variable ke-I pada faktor unik ke-i
Ui = Faktor unik untuk variable ke-i
m = Jumlah Common factor
Dapat diformulasikan sebagai berikut :

Keterangan:
Fi = Faktor ke-I estimasi
W = Bobot faktor atau skor koefisien factor
Fm = common factor ke-m
K = Jumlah variabel
Agam (2006) Menggambarkan prosedur umum dalam analisis faktor adalah seperti dibawah ini:

Menurut Agam (2006) Teknik statistik untuk analisis faktor adalah sebagai berikut:
1. Bartlett’s test of sphericity merupakan uji statistik untuk menguji hipotesis bahwa variabel tidak saling berkorelasi dalam populasi.
2. Matriks korelasi.
3. Communality merupakan jumlah varian yang disumbangkan oleh variabel terhadap seluruh variabel lain.
4. Eigenvalue merupakan jumlah varian yang dijelaskan oleh setiap faktor. Hanya eigenvalue >1 yang dimasukkan dalam model.
5. Scree plot merupakan plot dari eigenvalue sebagai sumbu vertikal dan banyaknya faktor sebagai sumbu datar, untuk menentukan banyaknya faktor yang bisa ditarik (factor extraction).
Dan memberikan catatan:
• Jenis variabelnya interval atau rasio.
• Jumlah sampel = 4 kali jumlah variabel. Misal jumlah variabel =10, maka n-nya = 40 unit.
Menurut Wahyuana (2004: 69) terdapat tahapan dalam menguraikan variabel pada analisis faktor, yaitu sebagai berikut:
1. Uji Kaiser Meyer Olkin (KMO) dan Barlett’s
Uji barlett’s digunakan untuk menguji hipotesis nol (H0) yang menyatakan semua variabel tidak berhubungan satu sama lain. Uji KMO merupakan uji untuk mengukur tingkat kedekatan antara variabel yang dijelaskan oleh korelasi antara variabel. Jika nilai KMO > 0,5 maka analisis faktor dapat dan tepat untuk digunakan.
Tabel 3
Kaiser-Meyer-Olkin

Ukuran KMO Rekomendasi
≥ 0.90 Sangat Baik
≥ 0. 80 Baik
≥ 0.70 Sedang
≥0.60 Cukup
≥ 0.50 Kurang
Dibawah 0.50
Ditolak

Dalam tabel 3 dijelaskan ukuran Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) menurut Zaenal (2008), bahwa terdapat rekomendasi penilaian dalam nilai KMO, yaitu dengan rekomendasi nilai sangat baik adalah apabila nilai KMO-nya lebih dari atau sama dengan 0,90. Rekomendasi baik dengan nilai lebih dari atau sama dengan 0,80. Rekomendasi sedang dengan nilai lebih dari atau sama dengan 0,70. Rekomendasi cukup dengan nilai lebih dari atau sama dengan 0,60. Rekomendasi kurang dengan nilai lebih dari atau sama dengan 0,50 dan rekomendasi nilai ditolak dengan besar KMO-nya dibawah 0,05.
Penilaian rekomendasi ini sangat diperlukan untuk memberikan besar nilai uji apakah variabel ini tepat dan dapat digunakan. Selanjutnya dapat memberikan penilaian apakah variabel faktor tersebut dapat diteruskan pada analisa selanjutnya.

2. Ektraksi Faktor dan Penentuan Jumlah Faktor
Metode ekstraksi yang digunakan dalam analisis faktor adalah teknik Maximum Principal Component Analysis. Penentuan jumlah faktor dilakukan pada dua kriteria, yaitu nilai Eigenvalue > 1,0 dan Percentage of Variance > 0,6. Eigenvalue menunjukkan kepentingan relative masing-masing faktor dalam menghitung varians variabel yang dianalisis.
Menurut Fanani (2008), faktor dapat diterima atau layak apabila telah mewakili seperangkat variabel dengan ketentuan dan alternatif sebagai berikut:
1) faktor mempunyai nilai eigenvalue > 1
2) faktor mempunyai persentase varaian > 5%
3) faktor menpunyai persentase kumulatif sebesar 60%


2.8 Penelitian Terdahulu
Berdasarkan penelitian sebelumnya, Putri (2003: 61) menjelaskan untuk memperkirakan trend suatu perusahaan untuk jangka panjang dan dimasa yang akan datang menggunakan analisa trend. Data dalam penelitiannya menggunakan data time series suatu waktu, misalnya bulan, tahun, atau minggu. Didalam analisanya menggunakan periode waktu bulan untuk data penjualan yaitu 35 bulan kebelakang untuk memprediksi (peramalan) data laju penjualan yang akan datang, yaitu 10 bulan ke depan, dengan rumus Y = a + bX. Kemudian menghasilkan laju pertumbuhan dalam persentase dengan rumus Rt = Xt – (Xt – 1)/ Xt – 1 X 100%.
Dari hasil penelitiannya menunjukkan trend penjualan berupa grafik yang mengalami kenaikan pada peramalan atau perkiraan trend penjualan selama 10 bulan yang akan datang. Kenaikan penjualan perusahaan yang diteliti dari hasil penelitiannya yaitu disebabkan oleh:
1) Bertambahnya peminat (konsumen), sehingga meningkatnya permintaan.
2) Meningkatnya pendapatan masyarakat (konsumen).
3) Strategi dan saluran pemasaran yang digunakan perusahaan untuk melayani konsumen (strategi yang tepat).
4) Adanya peningkatan kualitas produk.
Berdasarkan penelitian sebelumnya tentang perilaku konsumen oleh Hastari yang berjudul “Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prilaku Konsumen terhadap Pembelian Buah Naga (Dragon fruit)”, dalam analisanya Hastari melakukan lima kali pengulangan data untuk uji Barlett’s dan Kaiser Meyer Olkin (KMO) yaitu untuk mengukur tingkat kedekatan antar variabel, karena analisa faktor tepat digunakan dan dapat lanjutkan analisa datanya jika nilai KMO > 0,5. Didapat nilai KMO dalam penelitiannya, yaitu sebesar 0,738 sehingga variabel-variabel dalam penelitiannya diproses lebih lanjut
Menurut Hastari (2004: 45-46) terdapat 16 faktor yang dikelompokkan dalam 6 faktor dari hasil analisanya, Keenam faktor tersebut antara lain:
1. Faktor 1: a) Ke tempat pembelian hanya untuk membeli buah naga
b) Pada hari-hari tertentu akan mendapatkan diskon
c) Pemesanan dapat dilakukan melalui telepon
d) Warna yang menarik
e) tahu dari keluarga
f) Dijual dalam jumlah yang besar
g) Manfaat buah naga
2. Faktor 2: a) Kenyamanan tempat pembelian
b) Pelayanan yang diberikan memuaskan
3. Faktor 3: a) Kondisi buah segar
4. Faktor 4: a) Rasa ingin tahu
b) Inisiatif sendiri
5. Faktor 5: a) Memperhatikan faktor rasa
b) Harga yang diberikan terjangkau
6. Faktor 6: a) Lokasi pembeliandekat dengan tempat tinggal
b) Tahu dari media cetak
Berdasarkan hasil analisanya keenam faktor tersebut mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pembelian terhadap buah naga, dengan nilai Cummlative Percentage of Variance yaitu sebesar 65,346 atau 65,346% mempengaruhi keputusan pembelian Buah Naga (Dragon Fruit) dan sisanya 34,654% keputusan konsumen membeli dipengaruhi faktor lain.

2.9 Kerangka Pemikiran
Sektor agribusiness memenuhi syarat sebagai bisnis pertanian yang memiliki daya saing yang kuat dalam jangka panjang dan dapat menyerap tenaga kerja baik secara langsung maupun tidak langsung. sektor agribusiness merupakan tiang yang kokoh untuk sektor pertanian yang tangguh dan maju. Potensi sumber daya alam Indonesia, luas lahan yang ada, kondisi alam, serta letak Indonesia yang berada di kawasan tropis merupakan keunggulan bagi negara kita untuk mengembangkan agribusiness dan tidak menutup kemungkinan menuju kearah agroindustri yang lebih maju ramah lingkungan.
Keadaan tersebut memungkinkan untuk menghasilkan komoditas pertanian yang bernilai ekspor Agaricus Sido Makmur Sentosa merupakan salah satu contoh homeindustri yang bergerak pada bidang agribusiness khususnya produk pertanian jamur tiram putih (Pleurotus floridae).
Dalam suatu perusahaan sangat diperlukan pemantauan dalam kurun waktu atau periode tertentu untuk kemajuan dan perkembangan perusahaan saat ini dan selanjutnya. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu analisa untuk melihat pada posisi seperti apa perusahaan pada saat itu, dalam hal ini diperlukan analisa trend yang sesuai pengertiannya yaitu suatu metode untuk meramalkan dan untuk merencanakan masa depan, menggunakan ukuran-ukuran yang dapat digunakan untuk membuat keputusan pada saat ini.
Selain itu juga, dalam dunia pemasaran saat ini, dimana munculnya variasi produk subtitusi yang bersaing sangat mempengaruhi suatu produk yang kita pasarkan dan yang terjadi saat ini pembeli adalah “Raja”. Berdasarkan hal ini, maka diperlukan suatu analisa terhadap perilaku konsumen, sehingga dapat diketahui apa saja kriteria dominan konsumen terhadap suatu produk. Setelah diketahuinya perilaku konsumen terhadap produk, maka perusahaan (produsen) dapat mengetahui kriteria dan keinginan terhadap produknya. Kesemuanya sangat membantu manajer pemasaran di dalam menyusun kebijaksanaan pemasaran perusahaan yang kemudian menjadi strategi perusahaan dalam usaha perkembangannya.
Keputusan konsumen untuk membeli sangat dipengaruhi berbagai faktor. Berbagai faktor tersebut secara umum dapat berasal dari faktor linkungan, faktor psikologis dan faktor individu konsumen itu sendiri. Sesuai dengan pendapat Engel proses keputusan konsumen dalam pembelian, yaitu dipengaruhi oleh pengaruh linkungan, perbedaan individu dan psikologis. Didalamnya pengaruh lingkungan terdapat budaya, kelas sosial, pengaruh pribadi dan pengaruh keluarga. Perbedaan individu dibentuk oleh sumber daya konsumen, motivasi dan keterlibatan individu, pengetahuan individu, sikap dan kepribadian yang diikuti gaya hidup dan demografi. Proses psikologis yang didalamnya dibentuk oleh pengolahan, informasi, pembelajaran, perubahan dan sikap/ perilaku.
Analisa faktor dalam perilaku konsumen jamur tiram putih Agaricus Sido Makmur Sentosa mencakup seluruh model faktor sesuai pendapat Engel (1994) dengan berbagai indikator yang dikelompokkan dalam faktor internal dan
eksternal. Faktor internal, antara lain: kepuasan dari pembelian sebelumnya, kepuasan dari layanan penjualan, kepribadian dan konsep diri hidup sehat, pengetahuan konsumen akan jamur jamur tiram putih yang mempunyai gizi tinggi dan dapat mengendalikan kesehatan, termotivasi untuk keperluan keluarga, termotivasi karena harga jamur sesuai dengan pendapatan dan atas inisiatif konsumen itu sendiri. faktor eksternal, antara lain: membeli karena pengaruh keluarga, membeli karena pengaruh kelompok referensi, membeli karena budaya di tempat tinggal banyak yang mengkonsumsi jamur tiram putih, Membeli karena pengaruh pendapatan keluarga, Penyajian, citra tempat (lokasi), sikap atas kekenyalan produk, sikap atas warna, sikap atas kebersihan, sikap atas rasa, kondisi kesegaran, harga, promosi dan distribusi.
Faktor-faktor tersebut diatas terdapat faktor dominan yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen yang sangat dibutuhkan suatu perusahaan terutama manajer pemasaran maupun pimpinan perusahaan untuk melakukan perencanaan dan strategi dalam kemajuan perusahaan. Menjawab faktor dominan tersebut diperlukan suatu analisa yang tepat. Dalam kasus ini peneliti menggunakan analisa statistik kualitatif, yaitu mencari korelasi perilaku konsumen terhadap atribut produk dengan menggunakan analisa faktor (Factor
Analysis), yaitu dengan bantuan SPSS 12.0 for Windows untuk kemudian direduksi dan menginterprestasikan faktor-faktor dominan, sehingga menjadi alat bantu khususnya manajer pemasaran dalam melakukan strategi dalam pencapaian penjualan maksimal. Kerangka pemikiran penelitian dapat digambarkan sebagai berikut dibawah ini:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar