Minggu, 04 Oktober 2009

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Saluran Pemasaran Jamur Tiram Putih CV. Agaricus Sido Makmur Sentosa (ASIMAS)
Saluran pemasaran atau distribusi dalam CV. Agaricus Sido Makmur Sentosa (ASIMAS) terdiri dari agen, pedagang besar, pengecer dan end user. Agen, pedagang besar dan pengecer dapat dikatakan sebagai suplier dikarenakan sebagian besar produk yang diterima dari CV. ASIMAS khususnya jamur tiram putih (Pleurotus floridae) tidak dikonsumsi langsung atau untuk selanjutnya dipasarkan kepada konsumen. end user merupakan konsumen yang berkunjung atau datang langsung ke CV. ASIMAS tanpa dijual kembali pada orang lain atau pembelian yang dikonsumsi langsung. Dapat digambarkan alur pemasarannya seperti di bawah ini.



Alur pemasaran CV. ASIMAS dapat dikatakan terdapat dua macam tingkat pemasarannya (level marketing), yaitu one level marketing dan zero level marketing. One level marketing dalam artian terdapat suplier sebelum produk CV. ASIMAS sampai pada konsumen akhir (end user). Sedangkan zero level marketing dalam artian konsumen end user mengambil dan membeli langsung pada CV. ASIMAS untuk dikonsumsi langsung.
Suplier CV. ASIMAS tersebar di beberapa kota di Jawa Timur dan luar Jawa, seperti kota Malang, Sidoarjo, Surabaya, dan Bali. ASIMAS dalam pemasarannya kepada suplier-suplier adalah melaui paket jasa pengiriman dan secara pesan-antar (delivery order) yang dapat dilakukan melalui telepon atau datang secara langsung. Pelayanan Delivery order khususnya pada wilayah sekitar Kota Malang, sedangkan untuk kota Sidoarjo, Surabaya dan Bali melalui jasa pengiriman. Konsumen end user juga melalui delivery order dan juga melalui kunjungan langsung ke CV. ASIMAS.
5.2 Segmen Potensial Jamur Tiram Putih (Pleurotus floridae) CV. Agaricus Sido Makmur Sentosa (ASIMAS)
CV. ASIMAS merupakan badan usaha yang sangat terbuka, baik untuk kunjung lapang yang bersifat kunjungan orientasi pendidikan untuk pelajar juga terbuka untuk umum. Terbukti dengan kalimat yang terlampir pada selayang pandang ASIMAS “Mau berwisata sambil belajar...? Ya di ASIMAS tempatnya”. Dilain itu juga membuka pelatihan untuk memberikan pengetahuan mengenai budidaya dan pengembangan produk khususnya jamur. Badan usaha ini juga mempunyai motto “Bersama Asimas Benar-benar Menyehatkan”
Segmen Jamur Tiram Putih (Pleurotus floridae) CV. Agaricus Sido Makmur Sentosa (ASIMAS) sangat bervariasi dan bermacam-macam, akan tetapi segmen potensial berdasarkan konsumen responden didapat sebagian besar adalah konsumen berpendidikan sarjana yang terdiri dari pegawai swasta maupun pegawai negeri dan diikuti mahasiswa dengan usia antar 20 – 29 tahun, dimana pada usia ini sebagian besar adalah pegawai swasta dan mahasiswa.
5.3 Analisa Trend dan Laju Pertumbuhan
Berdasarkan dari tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui trend dan laju pertumbuhan penjualan jamur tiram putih Agaricus Sido Makmur Sentosa. Analisa trend dengan regresi linier Y = a + bX dalam penelitian ini terdapat 3 macam trend, yaitu: trend harga, trend produksi dan trend permintaan.

Tabel 6: Harga, Produksi dan Permintaan Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS Tahun 2004 – 2007

No. Tahun Periode Permintaan (Total Penjualan) (Rp) Permintaan (total terjual) (Kg) Total Produksi (Kg) Harga
(Rp)
1 2004 Januari 3.606,150 214,50 214,50


7.500



2 Februari 3.765,250 263,00 264,00
3 Maret 3.836.200 222,75 222,75
4 April 3.582.900 224,75 224,75
5 Mei 4.082.800 370,50 374,50
6 Juni 6.193.300 699,25 798,25
jumlah 25.066.600 1.994,75 2.098,75



7.500



7 2004 Juli 8.270.100 853,75 1.103,75
8 Agustus 6.255.000 701,50 708,50
9 September 4.910.600 436,20 534,45
10 Oktober 6.907.750 614,75 630,75
11 November 6.707.250 493,00 494,00
12 Desember 10.080.750 867,00 897,50
jumlah 43.131.450 3.966,20 4.368,95

8.000



1 2005 Januari 10.461.000 951,30 953,30
2 Februari 10.092.000 1070,50 1.111,75
3 Maret 8.385.500 926,50 926,50
4 April 8.033.250 1000,25 1.000,25
5 Mei 5.920.500 775,50 777,00
6 Juni 4.562.500 575,75 583,50
jumlah 47.454.750 5.299,80 5.352,30
7 2005
Juli 8.097.000 1.023,00 1.050,50
8
Agustus 9.254.000 1.200,00 1.268,50
Lanjutan Tabel 6: Harga, Produksi dan Permintaan Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS tahun 2004 – 2007

No. Tahun Periode Permintaan (Total Penjualan) (Rp) Permintaan (total terjual) (Kg) Total Produksi (Kg) Harga
(Rp)
9 September 9.900.750 1.206,25 1.350,00
10 Oktober 13.720.375 1.569,25 1.643,25
11 November 11.344.500 1.352,50 1.633,25
12 Desember 11.576.750 1.381,00 1.490,50
jumlah 63.893.375 7.732,00 8.436,00
8.000
1 2006 Januari 9.911.750 1.181,50 1.181,50
2 Februari 8.868.750 1.063,25 1.063,25
3 Maret 11.296.500 1.373,00 1.557,25
4 April 9.714.000 1.129,00 2.121,25
5 Mei 9.518.500 1.106,75 3.237,80
6 Juni 15.640.750 1.806,45 3.486,20
jumlah 64.950.250 7.659,95 12.647,25
7 2006 Juli 16.499.350 1.925,70 3.766,20


8.000



8 Agustus 15.080.050 1.759,40 2.590,15
9 September 14.763.300 1.780,42 2.402,72
10 Oktober 16.505.650 2.031,45 2.191,05
11 November 18.872.750 2.191,50 2.214,70
12 Desember 15.979.000 1.852,75 1.852,75
jumlah 97.700.100 11.541,22 15.017,57
1 2007 Januari 22.512.250 2.565,75 2.617,50


8500



2 Februari 16.246.900 1.807,85 1.631,35
3 Maret 20.625.550 2.282,20 1.723,90
4 April 15.733.750 1.721,20 1.593,20
5 Mei 21.330.850 2.394,95 2.325,60
6 Juni 20.756.500 2.406,66 2.416,66
jumlah 117.205.800 13178,61 12308,21
7 2007 Juli 22.516.200 2.546,30 2.553,70 8.500




8 Agustus 19.584.000 2.367,85 2.944,85
9 September 21.719.500 2.590,10 2.722,35
10 Oktober 24.255.750 2.756,90 2.756,90
11 November 25.988.000 2.938,20 2.998,60
12 Desember 19.744.750 2.157,00 2.170,60

jumlah 133.808.200 15356,35 16147,00
5.3.1 Analisa Trend Harga
Persamaan regresi linier harga jamur tiram putih ASIMAS terhitung mulai tahun 2004 sampai dengan tahun 2007, dalam perhitungan terbagi dalam semester atau 2 periode pada setiap tahunnya. Terlihat pada tabel 7 dan perhitungan dibawah ini:
Tabel 7: Persamaan Regresi Linier Harga Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS Tahun 2004 – 2007

No. Tahun semester Harga (Rp) (Y) X X2 XY
1 2004 1 7.500 -4 16 -30000
2 2 7.500 -3 9 -22500
3 2005 1 8.000 -2 4 -16000
4 2 8.000 -1 1 -8000
5 2006 1 8.000 1 1 8000
6 2 8.000 2 4 16000
7 2007 1 8.500 3 9 25500
8 2 8.500 4 16 34000
TOTAL 64.000 60 7000
Sumber: Data sekunder diolah (2008)












Berdasarkan hasil perhitungan persamaan regresi linier harga jamur tiram putih ASIMAS didapat Y = 8.000 + 166,7 X. Dengan nilai konstanta a = 8.000 dan slope kemiringan b = 166,7 bernilai positif (+) yang berarti harga satu tahun yang akan datang akan naik sebesar Rp. 166,7.
Sehingga nilai trend harga jamur tiram putih tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 adalah:
Tabel 8: Trend Data Harga Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS Tahun 2004 – 2007

No. Tahun Semester Y = a + bX Y
1 2004 1 Y(2004<1>) = 8.000 + 116,7 (-4) 7.533,2
2 2 Y(2004<2>) = 8.000 + 116,7 (-3) 7.649,9
3 2005 1 Y(2005<1>) = 8.000 + 116,7 (-2) 7.766,6
4 2 Y(2005<2>) =8.000 + 116,7 (-1) 7.883,3
5 2006 1 Y(2006<1>) = 8.000 + 116,7 (1) 8.116,7
6 2 Y(2006<2>) = 8.000 + 116,7 (2) 8.233,4
7 2007 1 Y(2007<1>) = 8.000 + 116,7 (3) 8.350,1
8 2 Y(2007<2>) = 8.000 + 116,7 (4) 8.466,8
Sumber: Data sekunder diolah (2008)

Berdasarkan persamaan tabel 8 Y = 8.000 + 166,7 X, maka dapat diperoleh besar trend harga tahun 2004 – 2007 yang tiap tahunnya terbagi dalam dua semester seperti tergambar pada grafik di bawah ini:










Dari gambar 10 grafik trend harga diatas terlihat bahwa harga jamur tiram putih ASIMAS dari tahun ke tahun mengalami kenaikan yaitu dari tahun 2004 dengan harga Rp. 7.500/ Kg menjadi Rp. 8.500/ Kg pada tahun 2007. Dengan rata-rata kenaikan sebesar 1,6% (lihat tabel 16).
Selanjutnya nilai trend harga jamur tiram putih tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 dapat diprediksi (forecasting) adalah sebagai berikut:
Tabel 9: Prediksi (Forecasting) Harga Jamur Tiram Putih ASIMAS Tahun 2008- 2011

No. Tahun semester Y = a + bX Y
1 2008 1 Y(2008<1>) = 8.000 + 116,7 (5) 8.583,5
2 2 Y(2008<2>) = 8.000 + 116,7 (6) 8.700,2
3 2009 1 Y(2009<1>) = 8.000 + 116,7 (7) 8.816,9
4 2 Y(2009<2>) = 8.000 + 116,7 (8) 8.933,6
5 2010 1 Y(2010<1>) = 8.000 + 116,7 (9) 9.050,3
6 2 Y(2010<2>) = 8.000 + 116,7 (10) 9.167,0
7 2011 1 Y(2011<1>) = 8.000 + 116,7 (11) 9.283,7
8 2 Y(2011<2>) = 8.000 + 116,7(12) 9.400,4
Sumber: Data sekunder diolah (2008)

Berdasarkan persamaan Y = 8.000 + 166,7 X, maka dapat diperoleh juga besar trend harga tahun untuk 2008 – 2011 yang akan datang, tiap tahunnya terbagi dalam dua semester seperti tergambar pada grafik di bawah ini:


Dari gambar grafik 11 trend harga terlihat bahwa harga jamur tiram putih ASIMAS pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 dapat diprediksi (forecasting). Pada tahun 2008, yaitu seharga Rp. 8.500/ Kg - Rp. 8.700/ Kg. Pada tahun 2009, yaitu seharga Rp. 8.800/ Kg - Rp. 8.900/ Kg. Pada tahun 2010, yaitu seharga Rp. 9.050/ Kg - Rp. 9.200/ Kg. Pada tahun 2011, yaitu seharga Rp. 9.300/ Kg - Rp. 9.400/ Kg.

5.3.2 Analisa Trend Produksi
Persamaan regresi linier produksi jamur tiram putih ASIMAS terhitung mulai tahun 2004 sampai dengan tahun 2007, dalam perhitungan terbagi dalam semester atau 6 bulan pada setiap tahunnya. Terlihat pada tabel 10 dan perhitungan dibawah ini:


Tabel 10: Perhitungan Persamaan Regresi Linier Produksi Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS Tahun 2004 – 2007

No. Tahun semester total produksi (Kg) (Y) X X2 XY
1 2004 1 2098,75 -4 16 -8.395
2 2 4368,95 -3 9 -13.106,85
3 2005 1 5352,30 -2 4 -10.704,6
4 2 8436,00 -1 1 -8.436
5 2006 1 12647,25 1 1 12.647,25
6 2 15017,57 2 4 30.035,14
7 2007 1 12308,21 3 9 36.924,63
8 2 16147,00 4 16 64.588
TOTAL 76376,03 60 103.552,57
Sumber: Data sekunder diolah (2008)















Persamaan regresi linier produksi jamur tiram putih ASIMAS adalah Y = 9.547 + 1.725,9 X. Dengan nilai konstanta a = 9.547 dan slope kemiringan b = 1725,9 bernilai positif (+) yang berarti produksi satu tahun yang akan datang akan mengalami kenaikan sebesar 1.725,9.
Sehingga nilai trend produksi jamu tiram putih tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 adalah:


Tabel 11: Perhitungan Trend Data Produksi Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS Tahun 2004 – 2007

No. Tahun semester Y = a + bX Y
1 2004 1 Y(2004<1>) = 9.547 + 1.725,9 (-4) 2.643,4
2 2 Y(2004<2>) = 9.547 + 1.725,9 (-3) 4.369,3
3 2005 1 Y(2005<1>) = 9.547 + 1.725,9 (-2) 6.095,2
4 2 Y(2005<2>) = 9.547 + 1.725,9 (-1) 7.821,1
5 2006 1 Y(2006<1>) = 9.547 + 1.725,9 (1) 11.272,9
6 2 Y(2006<2>) = 9.547 + 1.725,9 (2) 12.998,8
7 2007 1 Y(2007<1>) = 9.547 + 1.725,9 (3) 14.724,7
8 2 Y(2007<2>) = 9.547 + 1.725,9 (4) 16.450,6
Sumber: Data sekunder diolah (2008)

Berdasarkan persamaan Y = 9.547 + 1.725,9 X, maka dapat diperoleh besar trend produksi tahun 2004 – 2007 yang tiap tahunnya terbagi dalam dua semester seperti tergambar pada grafik di bawah ini:


Dari gambar 12 grafik trend produksi terlihat bahwa produksi jamur tiram putih ASIMAS dari tahun ke tahun juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu dari tahun 2004 sebesar 2.098,75 Kg menjadi 16.147 Kg pada tahun 2007. Dengan rata-rata kenaikan sebesar 33,76% (lihat tabel 17).
Selanjutnya nilai trend produksi jamur tiram putih tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 dapat diprediksi (forecasting) adalah sebagai berikut:
Tabel 12: Perhitungan Prediksi (Forecasting) Produksi Jamur Tiram Putih ASIMAS Tahun 2008- 2011

No. Tahun semester Y = a + bX Y
1 2004 1 Y(2008<1>) = 9.547 + 1.725,9 (5) 18.176,5
2 2 Y(2008<2>) = 9.547 + 1.725,9 (6) 19.902,4
3 2005 1 Y(2009<1>) = 9.547 + 1.725,9 (7) 21.628,3
4 2 Y(2009<2>) = 9.547 + 1.725,9 (8) 23.354,2
5 2006 1 Y(2010<1>) = 9.547 + 1.725,9 (9) 25.080,1
6 2 Y(2010<2>) = 9.547 + 1.725,9 (10) 26.806,0
7 2007 1 Y(2011<1>) = 9.547 + 1.725,9 (11) 28.531,9
8 2 Y(2011<2>) = 9.547 + 1.725,9 (12) 30.257,8
Sumber: Data sekunder diolah (2008)
Berdasarkan persamaan Y = 9.547 + 1.725,9 X, maka dapat diperoleh juga besar trend produkdi tahun untuk 2008 – 2011 yang akan datang, tiap tahunnya terbagi dalam dua semester seperti tergambar pada grafik di bawah ini:


Dari gambar grafik 13 trend produksi terlihat bahwa produksi jamur tiram putih ASIMAS pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 dapat diprediksi (forecasting). Pada tahun 2008, yaitu sebesar 18.176,5 Kg – 19.902,4 Kg. Pada tahun 2009, yaitu sebesar 21.628,3 Kg – 23.354,2 Kg. Pada tahun 2010, yaitu sebesar 25.080,1 Kg – 26.806,0 Kg. Pada tahun 2011, yaitu sebesar 28.531,9 Kg – 30.257,8 Kg.

5.3.3 Analisa Trend Permintaan
Persamaan regresi linier permintaan jamur tiram putih ASIMAS terhitung mulai tahun 2004 sampai dengan tahun 2007, dalam perhitungan terbagi dalam semester atau 6 bulan pada setiap tahunnya. Terlihat pada tabel dan perhitungan dibawah ini:
Tabel 13: Perhitungan Persamaan Regresi Linier Permintaan Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS Tahun 2004 – 2007

No. Tahun semester total terjual (Permintaan) (Y) (Kg) X X2 XY
1 2004 1 1.994,75 -4 16 -7.979,00
2 2 3.966,20 -3 9 -11.898,60
3 2005 1 5.299,80 -2 4 -10.599,60
4 2 7.732,00 -1 1 -7.732,00
5 2006 1 7.659,95 1 1 7.659,95
6 2 11.541,22 2 4 23.082,44
7 2007 1 13.178,61 3 9 39.535,83
8 2 15.356,35 4 16 61.425,40
TOTAL 66.728,88 60 93.494,42
Sumber: Data sekunder diolah (2008)














Berdasarkan perhitungan persamaan regresi linier permintaan jamur tiram putih ASIMAS didapat Y = 8.341,1 + 1.558,2 X. Dengan nilai konstanta a = 8.341,1 dan slope kemiringan b = 1.725,9 bernilai positif (+) yang berarti permintaan satu tahun yang akan datang akan mengalami kenaikan sebesar 1.558,2.
Sehingga nilai trend permintaan jamur tiram putih tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 adalah:
Tabel 14: Perhitungan Trend Data Permintaan Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS Tahun 2004 – 2007

No. Tahun Semester Y = a + bX Y
1 2004 1 Y(2004<1>) = 8.341,1 + 1.558,2 (-4) 2.108,3
2 2 Y(2004<2>) = 8.341,1 + 1.558,2 (-3) 3.666,5
3 2005 1 Y(2005<1>) = 8.341,1 + 1.558,2 (-2) 5.224,7
4 2 Y(2005<2>) = 8.341,1 + 1.558,2 (-1) 6.782,9
5 2006 1 Y(2006<1>) = 8.341,1 + 1.558,2 (1) 9.899,3
6 2 Y(2006<2>) = 8.341,1 + 1.558,2 (2) 11.457,5
7 2007 1 Y(2007<1>) = 8.341,1 + 1.558,2 (3) 13.015,7
8 2 Y(2007<2>) = 8.341,1 + 1.558,2 (4) 14.573,9
Sumber: Data sekunder diolah (2008)
Berdasarkan persamaan Y = 8.341,1 + 1558,2 X , maka dapat diperoleh besar trend permintaan tahun 2004 – 2007 yang tiap tahunnya terbagi dalam dua semester seperti tergambar pada grafik di bawah ini:


Dari gambar 14 grafik trend permintaan terlihat bahwa permintaan jamur tiram putih ASIMAS dari tahun ke tahun juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi yaitu dari tahun 2004 sebesar 1.994,75 Kg menjadi 15.356,35 Kg pada tahun 2007. Dengan rata-rata kenaikan sebesar 32,35% (lihat tabel 18).
Dari persamaan regresi linier diatas menunjukkan bahwa kenaikan jumlah produksi lebih besar dibanding dengan kenaikan jumlah permintaan. Hal ini juga dapat terlihat dari data produksi yang terus mengalami peningkatan sebesar 1.725,9 Kg/ tahun yang tidak diiringi dengan kenaikan jumlah permintaan sebesar 1.558,2 Kg/ tahun yang nantinya akan berpengaruh juga terhadap harga. Pada kondisi seperti ini CV. ASIMAS masih memerlukan perluasan pemasaran yang berarti membutuhkan tenaga pemasaran dan sekaligus strategi pemasaran yang dapat memenuhi target jumlah dan kapasitas produksi untuk terpasarkan seluruhnya. Selain itu, juga dapat melakukan diversifikasi produk untuk mengatasi jumlah produksi yang semakin meningkat.
Selanjutnya nilai trend permintaan jamur tiram putih tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 dapat diprediksi (forecasting) adalah sebagai berikut:
Tabel 15: Perhitungan Prediksi (Forecasting) Permintaan Jamur Tiram Putih ASIMAS Tahun 2008- 2011

No. Tahun semester Y = a + bX Y
1 2004 1 Y(2008<1>) = 8.341,1 + 1.558,2 (5) 16.132,1
2 2 Y(2008<2>) = 8.341,1 + 1.558,2 (6) 17.690,3
3 2005 1 Y(2009<1>) = 8.341,1 + 1.558,2 (7) 19.248,5
4 2 Y(2009<2>) = 8.341,1 + 1.558,2 (8) 20.806,7
5 2006 1 Y(2010<1>) = 8.341,1 + 1.558,2 (9) 22.364,9
6 2 Y(2010<2>) = 8.341,1 + 1.558,2 (10) 23.923,1
7 2007 1 Y(2011<1>) = 8.341,1 + 1.558,2 (11) 25.481,3
8 2 Y(2011<2>) = 8.341,1 + 1.558,2 (12) 27.039,5
Sumber: Data sekunder diolah (2008)
Berdasarkan persamaan Y = 8.341,1 + 1.558,2 X, maka dapat diperoleh juga besar trend permintaan untuk tahun 2008 – 2011 yang akan datang, tiap tahunnya terbagi dalam dua semester seperti tergambar pada grafik di bawah ini:


Dari gambar grafik 15 trend permintan terlihat bahwa permintaan jamur tiram putih ASIMAS pada tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 dapat diprediksi (forecasting). Pada tahun 2008, yaitu sebesar 16.132,1 Kg – 17.690,3 Kg. Pada tahun 2009, yaitu sebesar 19.248,5 Kg – 20.806,7 Kg. Pada tahun 2010, yaitu sebesar 22.364,9 Kg – 23.923,1 Kg. Pada tahun 2011, yaitu sebesar 25.481,3 Kg – 27.039,5 Kg.

5.3.4 Analisa Laju Pertumbuhan Harga, Produksi dan Permintaan Jamur Tiram Putih ASIMAS Tahun 2004 – 2007

Analisa laju pertumbuhan harga, produksi dan permintaan jamur tiram putih ASIMAS terhitung mulai tahun 2004 sampai dengan tahun 2007 menggunakan rumus laju pertumbuhan dibawah ini:






Dengan keterangan rumus sebagai berikut:





















Laju Pertumbuhan Harga Jamur Tiram Putih ASIMAS tahun 2004-2007














































Tabel 16: Laju Pertumbuhan Harga Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS

No. Tahun semester Harga (Rp/Kg) Laju Pertumbuhan (%)
1 2004 1 7.500 -
2 2 7.500 0
3 2005 1 8.000 6,67
4 2 8.000 0
5 2006 1 8.000 0
6 2 8.000 0
7 2007 1 8.500 6,25
8 2 8.500 0
TOTAL 12,92
Rata-rata 1,615
Sumber: Data sekunder diolah (2008)
Berdasarkan tabel 16, rata-rata laju pertumbuhan haraga jamur tiram putih dari tahun 2004 – 2007 sebesar 1,6% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harga jamur tiram putih mengalami peningkatan dari ke tahun. Laju pertumbuhan harga jamur tiram putih dari tahu 2004 – 2007 relatif konstan. Pada tahun 2004 semester kedua tidak mengalami pertumbuhan (0%). Kemudian pada tahun2005 mengalami peningkatan sebesar 6,67% dan tidak mengalami pertumbuhan pada tahun 2006 karena tidak terjadi perubahan harga pada tahun 2005 – 2006 (0%). Pada tahun 2007 mengalami peningkatan kembali sebesar 6,25%. Gambar grafik laju pertumbuhan harga dapat dilihat pada gambar 16.

Dari gambar grafik 16, laju pertumbuhan harga terlihat pola pertumbuhan harga yang pada pertengahan tahun 2004 dari titik 0 dan secara tajam pada tahun 2005 dan kembali pada titik 0 sampai pada tahun 2006 yang artinya tidak terjadi perubahan harga pada jamur tiram putih ASIMAS ini. Kemudian naik tajam kembali pada tahun 2007 yang artinya terjadi perubahan harga yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya hingga kembali pada titik 0 pada semester ke dua tahun 2007 karena sampai pada tahun ini tidak terjadi perubahan harga.

Laju Pertumbuhan Produksi Jamur Tiram Putih ASIMAS Tahun 2004-2007











































Tabel 17: Laju Pertumbuhan Produksi Jamur Tiram Putih CV. ASIMAS
No. Tahun semester total produksi (Kg) Laju Pertumbuhan (%)
1 2004
1 2.098,75 -
2 2 4.368,95 108,17
3 2005 1 5.352,30 22,51
4 2 8.436,00 57,61
5 2006 1 12.647,25 49,92
6 2 15.017,57 18,74
7 2007 1 12.308,21 -18,04
8 2 16.147,00 31,19
TOTAL 270,10
Rata-rata 33,76
Sumber: Data sekunder diolah (2008)
Berdasarkan tabel 17, rata-rata laju pertumbuhan produksi jamur tiram putih dari tahun 2004 – 2007 sebesar 33,76%. Pada umumnya laju pertumbuhan produksi jamur tiram putih mengalami fluktuasi. Pada tahun 2004 semester kedua laju pertumbuhan jamur tiram putih sangat tinggi yaitu sebesar 108,17%, sedangkan pada tahun berikutnya tahun 2005 semester pertama mengalami penurunan sebesar 22,51%, dan meningkat 57,61% pada semester kedua. Pada tahun 2006 mengalami penurunan pada semester pertama dan kedua sebesar 49,92% dan 18,74%. Selanjutnya pada tahun 2007 mengalami penurunan sebesar -18,04% pada semester pertama dan mengalami peningkatan pada semester kedua sebesar 31,19%. Gambar grafik laju pertumbuhan produksi jamur tiram putih dapat dilihat pada gambar 17.


Dari gambar grafik 17, laju pertumbuhan produksi jamur tiram putih ASIMAS terlihat pola yang naik dan turun. Pada tahun 2004 semester ke dua laju pertumbuhan terletak pada titik 108,17 dalam artian bahwa terjadi laju pertumbuhan dari tahun atau semester sebelumnya, hingga terjadi penurunan tajam pada tahun 2005 yang artinya prosentase laju pertumbuhan produksi masih lebih besar dari tahun sebelumnya. Kemudian terjadi kenaikan pada semester ke dua tahun 2005 dan setelahnya terjadi penurunan hingga tahun 2007 hingga pada titik -18,04 dalam artian pada tahun ini produksi jamur tiram putih ASIMAS mengalami penurunan yang jauh dari tahun sebelumnya, setelah itu terjadi peningkatan pada semester ke dua tahun yang sama.



Laju Pertumbuhan Permintaan Jamur Tiram Putih ASIMAS Tahun 2004-2007











































Tabel 18: Laju Pertumbuhan Permintaan Jamur Tiram Putih
No. Tahun semester Permintaan (total terjual) (Kg) Laju Pertumbuhan (%)
1 2004 1 1.994,75 -
2 2 3.966,20 98,83
3 2005 1 5.299,80 33,62
4 2 7.732,00 45,89
5 2006 1 7.659,95 -0,93
6 2 11.541,22 50,67
7 2007 1 13.178,61 14,19
8 2 15.356,35 16,52
Jumlah 258,79
Rata-rata 32,35
Sumber: Data sekunder diolah (2008)
Berdasarkan tabel 18, rata-rata laju pertumbuhan permintaan jamur tiram putih ASIMAS sebesar 32,35%. Rata-rata laju pertumbuhan permintaan ini sebanding dengan rata-rata laju pertumbuhan produksi, hal ini membuktikan bahwa terpenuhinya semua permintaan jamur tiram putih oleh ASIMAS. Pada umumnya laju pertumbuhan permintaan jamur tiram putih ASIMAS juga mengalami fluktuasi. Pada tahun 2004 semester kedua laju pertumbuhan sangat tinggi, yaitu sebesar 98,83%. Pada tahun 2005 semester pertama sebesar 33,62% dan mengalami peningkatan pada semester kedua sebesar 45,89%. Pada tahun berikutnya mengalami penurunan yaitu -0,93% pada semester pertama tahun 2006 dikarenakan tidak mengalami penambahan permintaan dari tahun sebelumnya, pada semester kedua mengalami peningkatan yang cukup tinggi yaitu sebesar 50,67%. Kemudian tahun 2007 mengalami penurunan pada semester pertama sebesar 14,52% dan terjadi peningkatan kembali sebesar 16,52% pada semester kedua tahun yang sama.Gambar grafik laju pertumbuhan permintaan jamur tiram putih ASIMAS dapat dilihat pada gambar 18.


Dari gambar grafik 18, laju pertumbuhan permintaan jamur tiram putih ASIMAS juga terlihat pola pertumbuhan yang naik dan turun. Pada tahun 2004 semester ke dua pada titik 98,83 yang kemudian pada tahun 2005 terjadi penurunan tajam, dalam artian pada tahun ini permintaan jauh lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Pada semester kedua tahun 2005 terjadi kenaikan dan terjadi penurunan kembali pada pda tahun 2006 yang artinya jumlah permintaan masih jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Kemudian pada tahun yang sama pada semester kedua 2006 terjadi peningkatan dan terjadi penurunan kembali paa tahun 2007 dan pada akhirnya kenaikan terjadi setelahnya pada semester ke dua 2007.

5.4 Karakteristik Responden
Penelitian ini mengambil 98 responden yang berkunjung dan membeli jamur ASIMAS di tempat-tempat yang telah bekerjasama dengan ASIMAS di Kota Malang dan Bali pada saat penelitian berlangsung. Kondisi ekonomi responden yang dilihat antara lain adalah jenis kelamin, jenis pekerjaan, usia, tingkat pendidikan, dan tingakat pendapatan.

5.4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Konsumen yang membeli jamur tiram putih ASIMAS yang diambil sebagai responden berdasarkan jenis kelaminnya dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 19.
Tabel 19: Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
No. Jenis Kelamin Jumlah Responden Prosentase (%)
1. Laki-laki 65 66,3%
2. Perempuan 33 33,7%
Jumlah 98 100%
Sumber: Data primer diolah (2008)
Dapat diketahui bahwa responden atau konsumen yang membeli jamur tiram putih berjenis kelamin laki-laki lebih dominan daripada responden atau konsumen perempuan. Dari tabel 19 dapat dilihat besar prosentase konsumen laki-laki sebanyak 65 responden dari jumlah total 98 responden atau sebesar 66,3% , sedangkan konsumen perempuan sebanyak 33 responden dari jumlah total 98 responden atau sebesar 33,7%.


5.4.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Konsumen yang membeli jamur tiram putih ASIMAS yang diambil sebagai responden berdasarkan jenis pekerjaan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 20.
Tabel 20: Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan

No. Jenis Pekerjaan Jumlah Responden Prosentase (%)
1. Pegawai Negeri 9 9,2%
2. Pegawai Swasta 27 27,6%
3. Wiraswasta 27 27,6%
4. Ibu Rumah Tangga 6 6,1%
5. Mahasiswa 29 29,6%
Jumlah 98 100%
Sumber: Data primer diolah (2008)
Hasil perincian pada tabel 20, bahwa jenis pekerjaan pegawai negeri sebanyak 9 orang atau 9,2%, jenis pekerjaan sebagai pegawai swasta dan wiraswasta mempunya jumlah yang sama sebanyak 27 orang atau 27,6%, jenis pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sebanyak 6 orang dan jenis pekerjaan sebagai mahasiswa mempunyai jumlah yang paling besar yaitu sebanyak 29 orang atau 29,6%.
Hal ini menunjukkan mahasiswa merupakan konsumen terbanyak dan dimbangi oleh konsumen yang bekerja sebagai pegawai swasta dan wiraswasta, selanjutnya diikuti konsumen yang bekerja sebagai pegawai negeri dan ibu rumah tangga.


5.4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Konsumen yang membeli jamur tiram putih ASIMAS yang diambil sebagai responden berdasarkan usia dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 21.
Tabel 21: Karakteristik Responden Berdasarkan Usia

No. Usia Jumlah Responden Prosentase (%)
1. Kurang dari 20 tahun 6 6,1%
2. 20 – 29 tahun 44 45%
3. 30 – 39 tahun 22 22,4%
4. 40 – 49 tahun 25 25,5%
5. 50 tahun keatas 1 1%
Jumlah 98 100%
Sumber: Data primer diolah (2008)
Dari tabel 21 dapat dilihat karakteristik responden atau konsumen jamur tiram putih berdasarkan usia, yaitu konsumen dengan usia kurang dari 20 tahun sebanyak 6 orang atau sebesar 6,1%. Konsumen berumur 20 – 29 tahun sebanyak 44 orang atau 45%, konsumen berumur 30 – 39 tahun sebanyak 22 orang atau 22,4%, sedangkan konsumen berumur 40 – 49 sebanyak 25 orang atau sebesar 25,5% dan untuk konsumen berumur 50 tahun keatas sebanyak 1 orang atau 1%.
Berdasarkan perincian diatas menunjukkan bahwa sebagain besar konsumen jamur tiram putih adalah berusia 20 – 29 tahun, yang artinya bahwa responden atau konsumen jamur tiram putih pada usia ini rata-rata mahasiswa dan pegawai swasta ataupun wirawasta dengan besar prosentase adalah 45%.


5.4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Konsumen yang membeli jamur tiram putih ASIMAS yang diambil sebagai responden berdasarkan tingkat pendidikan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 22.
Tabel 22: Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No. Tingkat Pendidikan Jumlah Responden Prosentase (%)
1. SD - 0%
2. SLTP 4 4,1%
3. SLTA 26 26,5%
4. Diploma 10 10,2%
5. Sarjana 58 59,2%
Jumlah 98 100%
Sumber: Data primer diolah (2008)
Dari tabel 22, dapat dilihat karakteristik responden atau konsumen jamur tiram putih berdasarkan tingkat pendidikan, yaitu konsumen dengan tingkat pendidikan SD tidak ada. Konsumen berpendidikan SLTP sebanyak 4 orang atau 4,1%, konsumen berpendidikan SLTA sebanyak 26 orang atau sebesar 26,5%, konsumen berpendidikan Diploma sebanyak 10 orang atau 10,2%, dan konsumen yang berpendidikan Sarjana sebanyak 58 orang atau 59,2%.
Hal ini menunjukkan bahwa konsumen jamur tiram putih sebagian besar berpendidikan Sarjana karenasebagian besar konsumen adalah mahasiswa dan selanjutnya dikuti oleh pegawai swasta, wiraswasta dan pegawai negeri, yaitu sebesar 59,2%.


5.4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan
Konsumen yang membeli jamur tiram putih ASIMAS yang diambil sebagai responden berdasarkan tingkat pendapatan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 23.
Tabel 23: Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendapatan

No. Tingkat Pendapatan Jumlah Responden Prosentase (%)
1. Kurang dari 500.000 2 2%
2. 500.000 – 1.000.000 41 41,8%
3. 1.000.000 – 1.500.000 14 14,3%
4. 1.500.000 – 2.000.000 36 36,7%
5. Lebih dari 2.000.000 5 5,1%
Jumlah 98 100%
Sumber: Data primer diolah (2008)
Dari data tabel 23, dapat dilihat karakteristik reponden atau konsumen jamur tiram putih berdasarkan tingkat pendapatan, yaitu konsumen dengan bependapatan kurang dari Rp. 500.000 adalah sebanyak 2 orang atau 2%. Konsumen berpendapatan antara Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 adalah sebanyak 41 orang atau sebesar 41,8%, konsumen berpendapatan Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000 adalah sebanyak 14 orang atau 14,3%, sedangkan yang berpendapatan Rp. 1.500.000 – Rp. 2.000.000 adalah sebanyak 36 orang atau sebesar 36,7% dan yang berpendapatan lebih dari Rp. 2.000.000 adalah sebanyak 5 orang atau 5,1%.
Perincian diatas menunjukkan bahwa sebagian besar respondenj atau konsumen jamur tiram putih adalah yang mempunyai tingkat pendapatan Rp. 5000.000 – Rp. 1.000.000, yaitu sebesar 41,1% yang artinya tingkat pendapatan ini sebagian besar dimiliki oleh mahasiswa pada umunya.
5.5 Analisa Faktor
Berdasarkan dari tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian jamur tiram di Agaricus Sido Makmur Sentosa (ASIMAS) dan untuk mengetahui faktor yang paling dominan yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian jamur tiram di Agaricus Sido Makmur Sentosa (ASIMAS), maka didapatkan 24 variabel sebagai berikut: kepuasan dari pembelian sebelumnya, kepuasan dari layanan penjualan, kepribadiandan konsep diri hidup sehat, pengetahuan terhadap jamur mempunyai gizi tinggi dan dapat mengendalikan kesehatan, termotivasi untuk keperluan keluarga, termotivasi karena harga jamur sesuai dengan pendapatan, inisiatif sendiri, membeli karena pengaruh keluarga, membeli karena pengaruh kelompok referensi, membeli karena budaya di tempat tinggal banyak yang mengkonsumsi jamur tiram, membeli karena pengaruh pendapatan keluarga, Penyajian, citra tempat (lokasi), sikap atas kekenyalan produk, sikap atas warna, sikap atas kebersihan, sikap atas rasa dan kondisi kesegaran produk, harga, promosi melalui media elektronik maupun melalui media cetak, informasi orang lain (referensi), Jarak lokasi pembelian dengan tempat tinggal, ketersediaan produk dalam berbagai variasi dan jumlah yang besar, kenyamanan tempat penjualan. Hasil analisa faktor yang telah dilakukan terhadap 24 variabel diuraikan secara bertahap seperti di bawah ini.
Berdasarkan hasil penelitian, bahwa 24 variabel yang dianalisis dapat dimasukkan dalam analisis faktor. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) sebesar 0,606. Oleh karena nilai MSA diatas lebih dari 0,6 atau dapat dikatakan cukup baik, maka kumpulan variabel tersebut dapat diproses lebih lanjut. Selanjutnya tiap variabel dianalisis untuk mengetahui mana yang dapat diproses lebih lanjut dan mana yang harus dikeluarkan. Untuk mengetahui langkah ini, maka dilihat tabel kedua (Anti Image Matrices), khususnya pada bagian tabel baris (rows) ke dua (Anti Image Correlation), terlihat sejumlah angka yang membentuk diagonal dan bertanda “a” yang artinya besaran MSA sebuah variabel. Pilih besaran MSA yang kurang dari 0,5 dan yang paling kecil untuk dikeluarkan dari pemilihan variabel.
Pada khasus penelitian ini, besaran MSA dibawah 0,5 dan yang terkecil dimiliki oleh variabel “membeli karena inisiatif sendiri” dengan angka MSA sebesar 0,426. Artinya bahwa variabel tersebut harus dikeluarkan dari pemilihan variabel. Setelah variabel “membeli karena inisiatif sendiri” dikeluarkan, maka akan terjadi kenaikan KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) dari 0,606 menjadi 0,627. kemudian melakukan pengulangan terhadap variabel yang nilai MSA-nya dibawah 0,5 dan terkecil, yaitu variabel “membeli karena faktor rasa dan sesuai dengan keinginan” dengan nilai MSA sebesar 0,476. Artinya bahwa variabel tersebut harus dikeluarkan dari pemilihan variabel.
variabel “membeli karena faktor rasa dan sesuai dengan keinginan” dikeluarkan, maka akan terjadi kenaikan KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) dari 0,627 menjadi 0,640. kemudian melakukan pengulangan terhadap variabel yang mempunyai nilai MSA dibawah 0,5 dan terkecil, yaitu variabel “membeli karena pengaruh promosi di media elktronik atau di media cetak” dengan nilai MSA sebesar 0,344. Artinya bahwa variabel tersebut harus dikeluarkan dari pemilihan variabel. Setelah variabel “membeli karena pengaruh promosi di media elktronik atau di media cetak” dikeluarkan, maka terjadi kenaikan KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) dari 0,640 menjadi 0,659. kemudian melakukan pengulangan terhadap variabel yang nilai MSA-nya dibawah 0,5 dan terkecil, yaitu variabel “membeli karena jarak lokasi pembelian dengan tempat tinggal” dengan nilai MSA sebesar 0,398. Artinya bahwa variabel tersebut harus dikeluarkan dari pemilihan variabel.
Setelah dikeluarkannya variabel“membeli karena jarak lokasi pembelian dengan tempat tinggal”, maka terjadi kenaikan KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) dari 0,659 menjadi 0,669. Nilai KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) mencapai 0,669. Pada tabel (Anti Image Correlation) baris (rows) ke dua sudah tidak terdapat variabel yang mempunyai MSA dibawah 0,5 sehingga dari dua puluh empat (24) variabel mula-mula yang dianalisis dengan lima kali pengulangan analisis, sehingga terseleksi dua puluh (19) variabel yang memenuhi syarat untuk analisis faktor. Kesembilanbelas variabel tersebut adalah:
X1_1 : Kepuasan dari pembelian sebelumnya
X1_2 : Kepuasan dari layanan penjualan
X1_3 : Kepribadiandan konsep diri hidup sehat
X1_4 : Pengetahuan terhadap jamur mempunyai gizi tinggi dan dapat mengendalikan kesehatan
X1_5 : Termotivasi untuk keperluan keluarga
X1_6 : Inisiatif sendiri
X2_1 : Membeli karena pengaruh keluarga
X2_2 : Membeli karena pengaruh kelompok referensi
X2_3 : Budaya di tempat tinggal banyak yang mengkonsumsi produk
X2_4 : Membeli karena pengaruh pendapatan keluarga
X2_5 : Penyajian
X2_6 : Citra tempat
X2_7 : Kekenyalan produk
X2_8 : Sikap atas warna produk
X2_9 : Kebersihan
X2_11 : Kondisi kesegaran produk
X2_12 : Harga
X2_14 : informasi orang lain
X2_16 : Ketersediaan produk

5.5.1 Uji Kaiser Meyer Olkin (KMO) & Barlett’s
Uji Barlett’s digunakan untuk menguji hipotesis nol (H0) yang menyatakan semua variabel tidak berhubungan satu sama lain. Pada lampiran analisis faktor terlihat bahwa Barlett’s Test of Sphericity yang dinampakkan denagn angka Chi-square sebesar 524,926 signifikansi 0,000. Hal ini berarti bahwa peluang kesalahan yang menyatakan antara variabel dan populasi saling tidak berhubungan satu sama lain bernilai 0%.
Uji KMO merupakan uji untuk mengukur tingkat kedekatan antara variabel yang dijelaskan oleh korelasi antara variabel. Jika nilai KMO > 0,5 maka analisis faktor tepat untuk digunakan. Pada lampiran analisis faktor diketahui bahwa nilai KMO-nya adalah 0,669. Hal ini menunjukkan bahwa antara variabel terdapat hubungan satu sama lainnya, sehingga penggunaan analisis ini adalah tepat.

5.5.2 Ekstraksi Faktor dan Pentuan Jumlah Faktor
Metode ekstraksi yang digunakan dalam analisis faktor ini adalah teknik Maximum Principal Component Analysis. Penentuan jumlah faktor dilakukan pada tiga kriteria yaitu nilai Eigenvalue > 1,0, Percentage of Variance > 5% atau dan persentase komulatif sebesar 60%.
Eigenvalue menunjukkan kepentingan relative masing-masing faktor dalam menghitung varians variabel yang dianalisis. Berikut didapatkan Analisis faktor Berdasarkan pada Extraction Sums of Squared Loadings, dapat dilihat pada tabel 24 dibawah ini:
Tabel 24: Hasil Analisis Faktor Berdasarkan pada Extraction Sums of Squared Loadings

No. Faktor Eigenvalue Percentage of Variance Commulative Pecentage
1. Inisiatif Pribadi 4.208 21,042 21,042
2. Penyajian Produk 1.980 9,901 30,943
3. Motivasi 1.774 8,871 39,814
4. Informasi 1.663 8,317 48,131
5. Kepribadian dan Konsep Diri 1.298 6,488 54,619
6. Pengalaman 1.129 5,643 60,262
7. Ketersediaan Produk 1.058 5,290 65,552
Sumber: Data primer diolah (2008)
Jumlah faktor yang didasarkan pada kriteria diatas didapatkan sebanyak 7 faktor, yaitu inisiatif pribadi, penyajian produk, motivasi, informasi, kepribadian dan konsep diri, pengalaman dan ketersediaan produk. Ketujuh faktor tersebut dapat dikatakan sebagai faktor-faktor yang dipertimbangkan dan mendorong konsumen dalam keputusan pembelian jamur tiram putih, karena memiliki kriteria dalam suatu ektraksi faktor yaitu dengan nilai eigenvalue diatas nilai 1 dengan persentase ketujuh varian diatas 5% dan persentase kumulatif diatas 60% yaitu sebesar 65,552%. Hal ini dibuktikan dengan besarnya Percentage Total of Variance pada tabel diatas, yaitu 65,552 didapat dari ketujuh faktor yang besarnya dapat dilihat pada lampiran 4 page 1 atau sebesar sebagai berikut: inisiatif pribadi sebesar 11,732%, penyajian produk sebesar 10,745%, motivasi sebesar 9,783%, informasi sebesar 9,301%, kepribadian dan konsep diri sebesar 9,169%, pengalaman sebesar 8,846% dan ketersediaan produk sebesar 5,975%.

5.5.3 Matrik Faktor dan Rotasi Faktor
Pada matrik faktor terdapat koefisien korelasi atau faktor loading yang menyatakan bahwa variabel-variabel tersebut berkorelasi dalam satu faktor. faktor loading dinyatakan signifikan apabila nilainya > 0,5 atau nilai komunalitasnya harus lebih dari 0,5 maka dapat dinyatakan mewakili faktor yang terbentuk. Matrik faktor ini menunjukkan korelasi antara variabel dalam satu faktor, sehingga dalam interprestasinya masih sulit untuk dilakukan. Untuk memudahkan dalam interprestasi hasil analisis faktor, matrik faktor dirotasi terlebih dahulu. Hasil rotasi dari matrik faktor yang ada dapat dilihat pada tabel 25.






Tabel 25: Faktor-faktor yang Dipertimbangkan Konsumen dalam Keputusan Pembelian Jamur Tiram Putih ASIMAS

No. Nama Faktor Variabel dalam Faktor Loading
1. INISIATIF PRIBADI
(11,732%) X1_6 : Inisiatif sendiri
X2_9 : Kebersihan produk
X2_11 : Kondisi kesegaran produk
X2_12 : Harga 0,709
0,604
0,660
0, 685
2. PENYAJIAN PRODUK
(10,745%) X1_4 : Pengetahuan terhadap jamur mempunyai gizi tinggi dan dapat mengendalikan kesehatan
X2_3 : Budaya di tempat tinggal banyak yang mengkonsumsi produk
X2_5 : Penyajian Produk
X2_8 : Sikap atas warna produk 0,656

0,539

0,765
0,661
3. MOTIVASI
(9,783%) X1_5 : Termotivasi untuk keperluan keluarga
X2_1 : Membeli karena pengaruh keluarga
X2_4 : Membeli karena pengaruh pendapatan keluarga 0,826
0,627
0,729
4. INFORMASI
(9,301%) X2_2 : Membeli karena pengaruh kelompok referensi
X2_14 : Informasi orang lain 0,774
0.798
5. KEPRIBADIAN DAN KONSEP DIRI (9,169%) X1_3 : Kepribadian dan konsep diri hidup sehat
X2_6 : Citra tempat
X2_7 : Kekenyalan produk 0,737
0,682
0,620
6. PENGALAMAN
(8,846%) X1_1 : Kepuasan dari pembelian sebelumnya
X1_2 : Kepuasan dari layanan penjualan 0,842
0,823
7. KETERSEDIAAN PRODUK (5,975%) X2_16 : Ketersediaan produk 0,795
Sumber: Data primer diolah (2008)
Berdasarkan tabel 25 dapat dilihat bahwa variabel dalam faktor berjumlah 19 variabel. Variabel-variabel tersebut antara lain: variabel membeli karena Inisiatif sendiri, variabel membeli karena kebersihan produk, variabel membeli karena kondisi kesegaran produk, variabel harga, variabel membeli karena pengetahuan terhadap jamur mempunyai gizi tinggi dan dapat mengendalikan kesehatan, variabel membeli karena budaya di tempat tinggal banyak yang mengkonsumsi produk, variabel membeli karena penyajian, variabel membeli karena sikap atas warna produk, variabel termotivasi untuk keperluan keluarga, variabel pengaruh keluarga, variabel pengaruh pendapatan keluarga, variabel pengaruh kelompok referensi, variabel Informasi orang lain, variabel kepribadian dan konsep diri hidup sehat, variabel citra tempat pembelian, variabel kekenyalan produk, variabel kepuasan dari pembelian sebelumnya, variabel kepuasan dari layanan penjualan, dan variabel ketersediaan produk.
Ke-19 variabel tersebut diatas mempengaruhi keputusan konsumen dalam pembelian jamur tiram putih. Kesembilanbelas variabel ini merupakan hasil analisa faktor dari dua pulu satu (21) variabel yang terseleksi dan di reduce (dikurangi) menjadi tujuh (7) faktor inti dengan tiga (3) variabel terpaksa tidak dikeluarkan dari ketujuh faktor karena tidak melewati “Cut off Point” sebesar 0,5. Ketujuh faktor inti ini memiliki Percentage Total of Variance sebesar 65,552%.
Pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian jamur tiram putih sebanyak 7 faktor inti, yaitu inisiatif pribadi, penyajian produk, motivasi, informasi, kepribadian dan konsep diri, pengalaman dan ketersediaan produk. Ketujuh faktor inti tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Inisiatif Pribadi (11,732%)
Faktor inisiatif pribadi mempunyai Percentage Total of Variance sebesar 11,732%. Hal ini berarti faktor inisiatif pribadi memberikan kekuatan pengaruh paling besar terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih, yaitu sebesar 11,732%. Faktor inisiatif pribadi ini didalamnya terbentuk oleh 4 variabel yang terdiri dari; membeli karena inisiatif sendiri, kebersihan produk, kondisi kesegaran produk dan harga. Pada hasil analisis keempat variabel ini memiliki loading positif, yang artinya jika penilaian konsumen terhadap ke-4 variabel diatas semakin tinggi maka keputusan pembeliannya semakin kuat.
Nilai loadingnya memiliki rata-rata sebesar 0,665 yang artinya bahwa nilai tersebut menunjukkan bahwa variable yang terlibat dari faktor ini mampu memberi penjelasan tentang pemberian pengaruh kepada konsumen dalam pengambilan keputusan untuk membeli jamur tiram putih ASIMAS. Hal ini membuktikan bahwa faktor inisiatif pribadi merupakan sesuatu hal yang timbul dari konsumen itu sendiri.
Keempat variable dalam faktor inisiatif pribadi yang mempunyai loading faktor terbesar adalah inisiatif sendiri, yaitu sebesar 0,709 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya inisiatif pribadi konsumen itu sendiri yang mendorong keputusan pembelian jamur tiram putih ASIMAS terbesar. Inisiatif sendiri ini maksudnya keinginan atas dasar pilihan diri sendiri tanpa dipengaruhi suatau hal tertentu. Variable kebersihan produk memiliki loading sebesar 0,604 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya jika penilaian konsumen terhadap kebersihan jamur tiram putih ASIMAS makin baik maka keputusan pembelian jamur tiram putih ASIMAS makin kuat.
Variable kondisi kesegaran produk memiliki loading sebesar 0,660 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya variable ini memberikan pengaruh terhadap pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS, yaitu dengan semakin terlihat dan terasa kesegaran kesegaran jamur tiram putih ASIMAS maka pembelian konsumen akan semakin kuat. Kondisi kesegaran produk disini adalah kondisi jamur tiram putih ASIMAS terlihat dan tersa segar atau tidak layu dengan penampilan putih dan tebal seperti tampak baru dipanen.
Variable harga memiliki loading sebesar 0,685 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya memberikan pengaruh terhadap pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Harga yang dimaksud disini adalah harga yang terjangkau oleh konsumen, yaitu apabila harga masih terjangkau, maka pembelian terhadap jamur tiram putih ASIMAS oleh konsumen akan tetap kuat.


2. Penyajian Produk (10,745%)
Faktor penyajian produk mempunyai Percentage Total of Variance 10,745%. Hal ini berarti faktor penyajian produk memberikan kekuatan kedua terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih, yaitu sebesar 10,745%. Faktor penyajian produk ini didalamnya terbentuk oleh 4 variabel yang terdiri dari terdiri dari; budaya di tempat tinggal banyak yang mengkonsumsi produk, pengetahuan terhadap jamur mempunyai gizi tinggi dan dapat mengendalikan kesehatan, penyajian dan sikap atas warna produk. Pada hasil analisis tiga variabel ini memiliki loading positif, yang artinya jika penilaian konsumen terhadap ke tiga variabel diatas semakin tinggi maka keputusan pembeliannya semakin kuat.
Keempat variabel dalam faktor penyajian produk yang mempunyai loading faktor terbesar adalah penyajian, yaitu sebesar 0,765 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya penyajian itu sendiri yang mendorong keputusan pembelian jamur tiram putih ASIMAS terbesar. Penyajian ini maksudnya adalah cara penyajian dan penampilan kemasan jamur tiram putih yang baik.
Variabel pengetahuan terhadap jamur yang mempunyai gizi tinggi dan dapat mengendalikan kesehatan mempunyai loading faktor sebesar 0,656 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya semakin besar pengetahuan konsumen akan gizi yang terkandung pada jamur tiram putih dan kemampuan jamur tiram putih untuk mengendalikan kesehatan, maka akan semakin kuat keputusan konsumen untuk membeli jamur tiram putih ASIMAS. Pengetahuan terhadap jamur yang mempunyai gizi tinggi dan dapat mengendalikan kesehatan yang dimaksud disini adalah pengetahuan konsumen akan kandungan jamur tiram putih, seperti vitamin B, vitamin C dan provitamin D dan dapat mengatasi berbagai penyakit diantaranya yaitu tekanan darah tinggi, diabetes, kelebihan kolesterol, anemia, meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan polio, influenza dan kekurangan gizi.
Variabel budaya di tempat tinggal banyak yang mengkonsumsi produk mempunyai loading sebesar 0,539 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya semakin banyak lingkungan tempat tinggal konsumen untuk mengkonsumsi jamur tiram putih, maka akan semakin kuat keputusan konsumen untuk membeli jamur tiram putih
ASIMAS. Budaya di tempat tinggal banyak yang mengkonsumsi produk yang dimaksud disini adalah kebudayaan atau kebiasaan yang telah ada sejak dulu akan mengkonsumsi jamur tiram putih pada lingkungan tempat tinggal.
Variabel sikap atas warna produk mempunyai loading sebesar 0,661 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya semakin kuat sikap konsumen atas penilaian warna jamur tiram putih, maka akan semakin kuat keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Sikap atas warna produk yang dimaksud disini adalah sikap konsumen terhadap warna jamur tiram putih ASIMAS yang putih bersih dan tidak kusam.

3. Motivasi (9,783%)
Faktor motivasi mempunyai Percentage Total of Variance 9,783%. Hal ini berarti faktor motivasi memberikan kekuatan ketiga terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih, yaitu sebesar 9,783%. Faktor motivasi terdiri dari tiga variabel, yaitu termotivasi untuk keperluan keluarga, membeli, karena pengaruh keluarga dan membeli karena pengaruh pendapatan keluarga. Ketiga variabel ini semua mempunyai hubungan dengan keluarga maksudnya adalah konsumen melakukan pembelian karena mereka termotivasi untuk memenuhi kebutuhan atau keperluan keluarga mereka akan konsumsi jamur tiram putih dan itu sesuai dengan pendapatan keluarga mereka.
Pada hasil analisis tiga variabel ini memiliki loading positif, yang artinya jika penilaian konsumen terhadap ke tiga variabel diatas semakin tinggi maka keputusan pembeliannya semakin kuat. Variabel termotivasi untuk keperluan keluarga mempunyai loading 0,826 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya semakin kuat konsumen termotivasi untuk keperluan keluarganya akan jamur tiram putih, maka akan semakin kuat keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Termotivasi untuk keperluan keluarga yang dimaksud disini adalah konsumen termotivasi akan kebutuhan dan pemenuhan keluarga akan jamur tiram putih ASIMAS yang digunakan sebagai bahan konsumsi.
Variabel membeli karena pengaruh keluarga mempunyai loading 0,627 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya semakin kuat pengaruh keluarga akan jamur tiram putih, maka akan semakin kuat keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Membeli karena pengaruh keluarga yang dimaksud disini adalah dorongan keluarga akan pemenuhannya terhadap jamur tiram putih ASIMAS yang digunakan sebagai bahan konsumsi.
Variabel membeli karena pengaruh pendapatan keluarga mempunyai loading 0,729 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya semakin besar pendapatan keluarga, maka akan semakin kuat keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Membeli karena pengaruh pendapatan keluarga yang dimaksud disini adalah besar kecilnya pendapatan dalam keluarga konsumen jamur tiram putih ASIMAS.
4. Informasi (9,301%)
Faktor informasi mempunyai Percentage Total of Variance 9,301%. Hal ini berarti faktor informasi memberikan kekuatan keempat terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih, yaitu sebesar 9,301%. Faktor motivasi terdiri dari dua variabel, yaitu membeli karena pengaruh kelompok referensi dan membeli karena informasi orang lain (referensi). Pada variabel diatas menjelaskan bahwa konsumen melakukan pembelian karena dipengaruhi oleh informasi orang lain atau referensi orang lain akan jamur tiram putih baik keunggulan kualitas produk maupun informasi lokasi pembelian.
Pada hasil analisis tiga variabel ini memiliki loading positif, yang artinya jika penilaian konsumen terhadap kedua variabel diatas semakin tinggi maka keputusan pembeliannya semakin kuat. Variabel terbesar dalam faktor informasi adalah variabel informasi orang lain mempunyai loading 0,798 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya semakin tinggi informasi dari orang lain akan jamur tiram putih ASIMAS, maka akan semakin kuat keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Informasi orang lain yang dimaksud disini adalah informasi keberadaan maupun kualitas yang berasal dari orang di sekitar konsumen dan menjadi referensi konsumen akan pembelian jamur tiram putih ASIMAS.
Variabel membeli karena pengaruh kelompok referensi mempunyai loading 0,774 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya semakin kuat kelompok referensi seperti teman kerja maupun orang yang dikenal dan dikagumi memberikan informasi akan jamur tiram putih ASIMAS, maka akan semakin kuat keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Membeli karena pengaruh kelompok referensi yang dimaksud disini adalah informasi dan dorongan yang diberikan oleh kelompok referensi konsumen akan jamur tiram putih ASIMAS.

5. Kepribadian dan Konsep diri (9,169%)
Faktor kepribadian dan konsep diri mempunyai Percentage Total of Variance 9,169%. Hal ini berarti faktor kepribadian dan konsep diri memberikan kekuatan kelima terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih, yaitu sebesar 9,169%. Faktor kepribadian dan konsep diri terdiri dari tiga variabel, yaitu membeli karena kepribadian dan konsep diri hidup sehat, citra tempat (lokasi) dan kekenyalan produk. Pada hasil analisis tiga variabel ini memiliki loading positif, yang artinya jika penilaian konsumen terhadap ketiga dua variabel diatas semakin tinggi maka keputusan pembeliannya semakin kuat.
Variabel terbesar dalam faktor ini yaitu variabel kepribadian konsep diri hidup sehat mempunyai loading 0,737 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya apabila penilaian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS sesuai dengan kepribadiannya akan memberikan kehidupan yang lebih sehat semakin kuat, maka akan semakin kuat keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. kepribadian konsep diri hidup sehat yang dimaksud disini adalah prinsip konsumen akan gaya hidup sehat yang didapat melalui mengkonsumsi jamur tiram putih ASIMAS.
Variabel citra tempat mempunyai loading 0,682 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya penilaian konsumen terhadap tempat atau lokasi penjualan jamur tiram putih ASIMAS semakin kuat, maka akan semakin kuat keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Citra tempat yang dimaksud disini adalah citra baik sejak lama dan diketahui oleh banyak konsumen yang dimiliki ASIMAS akan lokasi penjualannya jamur tiram putih ASIMAS.
Variabel kekenyalan produk mempunyai loading 0,620 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya penilaian konsumen terhadap kekenyalan jamur tiram putih ASIMAS semakin kuat, maka akan semakin kuat keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Kekenyalan produk yang dimaksud disini adalah kekenyalan yang dimiliki jamur tiram putih ASIMAS yang dapat dirasakan oleh konsumen. Jamur

6. Pengalaman (8,846%)
Faktor pengalaman Percentage Total of Variance 8,846%. Hal ini berarti faktor pengalaman memberikan kekuatan keenam terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih, yaitu sebesar 8,846%. Faktor pengalaman terdiri dari dua variabel, yaitu membeli karena kepuasan dari pembelian sebelumnya, dan kepuasan dari layanan penjualan. Pada faktor pengalaman ini dapat diartikan bahwa konsumen melakukan pembelian jamur tiram putih dikarenakan kepuasan maupun pelayanan sebelumya sehingga memberikan pengalaman yang baik dan hal ini mendorong untuk melakukan pembelian kedua.
Pada hasil analisis dua variabel ini memiliki loading positif, yang artinya jika penilaian konsumen terhadap kedua variabel diatas semakin tinggi maka keputusan pembeliannya semakin kuat. Variabel terbesar dalam faktor pengalaman adalah variabel kepuasan dari pembelian sebelumnya mempunyai loading 0,842 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya kepuasan yang diperoleh konsumen terhadap pengalaman sebelumnya akan pembelian jamur tiram putih ASIMAS semakin kuat, maka akan semakin kuat keputusan pembelian ulang konsumen terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Kepuasan dari pembelian sebelumnya yang dimaksud disini adalah kepuasan yang diperoleh sebelumnya dan pengalaman yang diterima konsumen sebelumnya akan pembelian jamur tiram putih ASIMAS.
Variabel kepuasan layanan penjualan mempunyai loading 0,823 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya penilaian konsumen terhadap pelayanan jamur tiram putih ASIMAS semakin kuat, maka akan semakin kuat keputusan pembelian ulang terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Kepuasan layanan penjualan yang dimaksud disini adalah pengalaman akan kepuasan yang pernah diperoleh dari pembelian sebelumnya terhadap jamur tiram putih ASIMAS.

7. Ketersediaan Produk (5,975%)
Faktor ketersediaan produk Percentage Total of Variance 5,975%. Hal ini berarti faktor ketersediaan produk memberikan kekuatan keenam terhadap keputusan pembelian konsumen terhadap jamur tiram putih, yaitu sebesar 5,975%. Faktor pengalaman terdiri ini, yaitu ketersediaan produk dalam berbagai variasi dan jumlah yang besar. Dapat diartikan bahwa berbagai variasi dan jumlah ketersediaan produk adalah konsumen tidak bosan akan membeli produk yang sama untuk memenuhi selera konsumsinya dan itu sangat mendorong untuk melakukan pembelian jamur tiram putih.
Pada hasil analisis variabel ini memiliki loading positif, yang artinya jika penilaian konsumen terhadap variabel diatas semakin tinggi maka keputusan pembeliannya semakin kuat. Variabel ketersediaan produk mempunyai loading 0,795 atau dapat dikatakan signifikan mewakili faktor yang terbentuk karena memiliki nilai >0,5 yang artinya penilaian konsumen akan ketersediaan jamur tiram putih ASIMAS dalam jumlah yang besar semakin kuat, maka akan semakin kuat keputusan pembelian ulang terhadap jamur tiram putih ASIMAS. Ketersediaan produk yang dimaksud disini adalah jumlah besar kecilnya jamur tiram putih ASIMAS yang tersedia dan konsumen tidak mengkhawatirkan terhadap tidak terpenuhinya akan kebutuhan jamur tiram putih ASIMAS.

5.5.4 Faktor Dominan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh satu faktor yang paling dominan, yaitu faktor inisiatif pribadi karena mempunyai persentase terbesar yaitu 11,732% dengan total nilai loadingnya terbesar, yaitu sebesar 2,658 atau dengan rata-rata 0,665 sehingga dapat dikatakan signifikan karena memiliki nilai >0,5. faktor inisiatif pribadi ini terdiri dari 4 variabel, yaitu membeli karena inisiatif sendiri, kebersihan produk, kondisi kesegaran produk dan harga. Hal ini berarti bahwa faktor inisiatif pribadi mempunyai hubungan dan pengaruh yang besar dan signifikan terhadap pembelian jamur tiram putih di CV. ASIMAS. Berdasarkan nilai loading yang ditunjukkan menjelaskan bahwa konsumen jamur tiram sangat menyukai jamur tiram putih karena kebersihan produk, kondisi kesegaran produk, harga dan atas keinginan atau inisiatif sendiri untuk mengkonsumsinya.
Pada variabel membeli karena kebersihan produk dapat dibuktikan bahwa dari 98 koresponden terdapat 6 responden yang menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju bahwa jamur tiram putih CV. ASIMAS kurang terjamin akan kebersihan produknya, yang artinya bahwa 92 responden atau 93% responden membeli jamur tiram putih karena mereka memperhatikan akan kebersihan yang terjamin.
Pada variabel membeli karena kondisi kesegaran produk dapat dibuktikan bahwa dari 98 responden terdapat 22 responden yang menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju bahwa jamur tiram putih CV. ASIMAS kurang memberikan kondisi yang segar, yang artinya bahwa 76 responden atau 76% responden membeli jamur tiram putih karena mereka memperhatikan kesegaran produknya yaitu jamur tiram putih.
Pada variabel membeli karena harga dapat dibuktikan bahwa dari 98 responden terdapat 20 responden yang menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju bahwa jamur tiram putih CV. ASIMAS memberikan harga yang sesuai, yang artinya bahwa 78 responden atau 80% responden membeli jamur tiram putih karena mereka memperhatikan harga produknya yaitu jamur tiram putih.
Pada variabel membeli karena inisiatif sendiri dapat dibuktikan bahwa dari 98 responden terdapat 19 responden yang menjawab sangat tidak setuju dan tidak setuju inisiatif mereka sendiri yang mempengaruhi pembelian mereka, yang artinya bahwa 79 responden atau 81% responden membeli jamur tiram putih karena mereka setuju bahwa inisiatif mereka sendiri yang mempengaruhi pembelian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar